Salah satu proses yang harus dijalani setelah melakukan tindakan operasi adalah kontrol. Proses tersebut dilakukan dalam rangka memastikan apakah tindakah yang telah dilakukan ada efek samping atau tidak. Selain juga memastikan perkembangan yang sudah dilakukan atas tindakan yang sudah dilakukan.
Sebagai orang yang sudah berkomitmen menjadi pendamping pasien ketika proses operasi, akupun harus berkomitmen untuk proses kontrolnya. Maka paska operasi selesai dan ketika mengurus surat kontrol aku menyampaikan kepada Mas Dimas, jika diperlukan aku masih siap untuk mendampinginya kontrol.
Sejenak Mas Dimas nampak ragu, apakah ia akan berangkat kontrol sendiri atau tetap butuh pendampingan. Aku melihat keraguannya itu.
Wajar saja, karena sebagai orang yang bekerja di Rumah Sakit dia paham bagaimana mekanisme kontrol, maka dari itu bisa jadi ia tidak membutuhkan seorang pendamping. Tetapi mengingat aturan klinik mata yang ketat dimana pasien harus didampingi oleh pendamping, tanpa ada pendamping petugas kesehatan tidak akan mengambil tindakan, maka kehadiran pendamping menjadi sangat penting.
“Nanti aku info lagi ya” demikian Mas Dimas menjawab pertanyaanku.
Sekali lagi aku menyampaikan bahwa esok hari aku belum ada agenda, sehingga masih bisa untuk mendampinginya kontrol.
Keesokan harinya, ketika aku buka handphone, ada pesan dari Mas Dimas yang masuk. Pesannya dikirim jam 05.00, sementara aku baru membacanya jam 5.45. Mungkin Mas Dimas berfikir aku masih tidur, atau mungkin juga berfikir aku tidak bisa mengantarnya untuk kontrol. Namun untungnya dia masih menunggu jawabanku, tidak seperti sebelumnya yang langsung meminta tolong pada Dio.
“Assalamualaikum, Mos Joko….Pagi ini bisa temenin kontrol ke RS, Mas? Kalo bisa kita berangkat jam 06.30 aja ya Mas Jok…” demikian pesannya.
Aku segera menjawab pesan tersebut bahwa aku bersedia mengantarnya untuk ke Rumah Sakit dan sepakat untuk berangkat jam 06.30.
Aku pun segera bersiap. Aku tidak mau seperti kemarin yang persiapanku sangat terburu-buru. Aku segera menuju kamar mandi untuk membasuh tubuh agar lebih segar. Tak lupa setelah mandi aku membuat teh panas untuk sekedar menghagatkan dan mengisi perut.
Berkaca dari hari sebelumnya, aku juga memasukan teh panas kedalam tumbler sebegai bekal.
Jam 06.30 kami bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit. Aku memastikan semua surat untuk keperluan kontrol tidak tertinggal. Aku pun mengusulkan agar ke Rumah Sakit berjalan kaki saja karena lokasinya tidak jauh. Namun sebelumnya aku memastikan terlebih dahulu apakah kalau berjalan kaki akan baik-baik saja untuk Mas Dimas, mengingat dia masih belum diperbolehkan banyak bergerak paska operasi kemarin. Mas Dimas pun menyetujui usulkan. Kami menuju Rumah Sakit berjalan kaki.
Sepanjang jalan kami ngobrol banyak hal, tentang kondisinya setelah operasi dan lain sebagainya. Hingga tak terasa kami sudah sampai jalan raya dan tinggal menyeberang.
Sesampainya di Rumah Sakit nampak sudah cukup ramai. Banyak pasien dan keluarga pasien yang duduk berjajar di ruang tunggu dan loby rumah sakit. Sebagai salah satu pekerja Rumah Sakit, Mas Dimas sudah tahu apa yang harus dilakukan, meja mana yang harus dituju. Bahkan sebagai pekerja, dia juga bisa masuk pada ruang-ruang yang terlarang bagi pasien maupun keluarganya.
Berbekal privilege yang dimilikinya, proses pendaftaran dilantai satu berjalan dengan cukup cepat. Aku hanya menunggu di kursi sambil terus mengawasinya.
Setelah segala urusan dilantai satu selesai, kami segera naik ke lantai dua dengan menggunakan escalator yang ada. Sesampai di lantai dua nampak sudah ada beberapa orang yang menunggu. Sebagian besar memang menunggu di depan klinik mata, sedangkan klinik-klinik lainnya tidak sebanyak di klinik mata.
Mas Dimas langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Hal ini ia lakukan karena memang ia memiliki privilege, dibadingkan pasien lain. Tidak lama dia keluar lagi dari ruang pemeriksaan. Ia menyampaikan belum ada orang di dalam ruangan.
Sambil menunggu jam pelayanan buka, Mas Dimas mengajaku untuk ke kantin. Aku baru tahu kalau di lantai dua ada kantin yang menyediakan aneka macam makanan. Tahu gitu kemarin sambil menunggu Mas Dimas operasi aku beli makanan di kantin, pikirku.
Kami pun segera memilih menu sarapan. Aku memilih bubur manado, menu yang jarang sekali aku temui. Sementara Mas Dimas memilih menu nasi ikan cakalang. Mas Dimas sempat bertanya apakah aku punya minum atau tidak. Aku menjawab bahwa aku sudah membawa minum, sehingga hanya dia saja yang belum punya minum.
Kami segera menuju ruang tunggu kembali. Kami menikmati sarapan di ruang tunggu yang semakin ramai.
Tidak begitu lama, petugas sudah mulai berdatangan. Mereka langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Namun karena jam pelayanan belum mulai mereka masih bersiap diri.
Tepat jam 07.30 pelayanan dimulai. Satu demi satu pasien dipanggil. Sebagai seseorang yang memiliki privilege Mas Dimas mendapatkan jadwal pertama. Sebagai pendamping aku memutuskan untuk tetap berada di ruang tunggu. Akhirnya Mas Dimas masuk ruang pemeriksaan sendiri.
Tidak lama kemudian dari pengeras suara terdengar panggilan “keluarga Tuan Dimas harap masuk ke ruangan” aku segera bergegas masuk ke ruang perawatan. Di dalam ruangan sudah cukup banyak orang. Aku segera diarahkan dimana Mas Dimas sedang mendapatkan pelayanan.
Aku segera mendekat dan memperhatikan. Tidak lama kemudian perawat yang sedang memeriksa menyuruh aku untuk memperhatikan apa yang harus dilakukan, misalnya bagaimana harus mengelap mata yang habis dioperasi dengan kassa yang sudah dibasahi oleh air hangat. Perawat juga menyampaikan sampai dua minggu kedepan bagian mata dan kepala tidak boleh terkena air. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengelapnya dengan perban. Perawat juga melarang tindakan itu dilakukan dengan menggunakan tissue basah, karena menurutnya tissue basah sudah mengandung alcohol sehingga akan mempengaruhi kesehatan mata.
Karena bagian kepala tidak boleh terkena air, maka perawat menyarankan untuk wudhu sementara dapat tayamun . Perawat juga kembali mengingatkan bahwa tidak boleh terlalu menunduk, sehingga solat juga harus dilakukan dengan posisi duduk. Sementara untuk menghindari terik matahari, ketika berada di luar ruangan diwajibkan untuk memakai kacamata hitam.
Setelah proses selesai Mas Dimas diminta untuk menunggu Dokter untuk pemeriksaan selanjutnya. Sementara aku berfikir tugasku selesai, aku segera meninggalkan ruang pemeriksaan. Hal tersebut aku lakukan karena menurutku ruang pemeriksaan sudah terlalu banyak orang.
Aku segera mencari tempat duduk yang masih kosong. Agak susah memang mencari tempat duduk yang kosong karena semakin siang semakin banyak pasien dan keluarganya yang datang. Di bagian paling depan di dekat meja pendaftaran aku memilih salah satu kursi yang masih kosong.
Aku memperhatikan lalu lalang pasien dan keluarganya. Usia mereka beragam. Ada pasien yang masih berusia anak-anak, mungkin belum mencapai 10 tahun tetapi sudah menggunakan kacamata cukup tebal. Ada beberapa pasien yang sudah lansia. Ada dari mereka yang menggunakan kursi roda. Ada yang datang sendiri atau datang dengan dengan pendampingnya, entah keluarga atau anaknya. Ada pula anak-anak yang ikut ibunya karena mungkin kalau ditinggal tidak ada yang menjaga di rumahnya.
Perhatianku tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Usianya mungkin sudah ditas 60 tahun. Dia nampak sendiri. Aku berfikir dimanakah keluarganya? Dimanakah anak-anaknya? Kenapa ia harus memeriksakan matanya sendiri tanpa didampingi oleh siapapun?
Tak lama perhatianku beralih pada seorang perempuan yang menggunakan kursi roda yang sedang berusaha masuk ke ruang pemeriksaan. Pendampingnya mengalami kesulitan untuk mendorong kursi roda masuk, sehingga sempat meminta perempuan tersebut turun dari kursi roda. Di tengah persiapan turun dari kursi roda, petugas Kesehatan keluar dari ruangan dan membantunya untuk dapat masuk ke ruang pemeriksaan dengan menggunakan kursi roda.
Perhatianku juga tertutu pada seorang laki-laki lanjut usia, mungkin usianya sudah lebih 70 tahun. Ia datang sendiri tanpa ditemani oleh kerabatnya.Ia sedang mencoba bernegosiasi dengan petugas yang ada di meja pendaftaran agar di perbolehkan untuk mendapatkan pelayanan cek mata tanpa rujukan.
Namun petugas menolaknya, karena sesuai aturan BPJS semua yang ingin mendapatkan pelayanan harus membawa rujukan. Laki-laki tersebut sebenarnya sudah membawa rujukan, namun rujukannya untuk urologi. Petugas sempat meminta pasien kembali ke urologi dan menjalankan prosesnya terlebih dahulu. Ia menjelaskan bahwa pelayanan baru bisa dilakukan dua minggu setelahnya.
Namun laki-laki tersebut terus mengharapkan mendapatkan pelayanan hari itu, karena matanya sudah sangat menganggu. Petugas sempat menyarankan untuk ke puskesmas atau klinik yang berbayar. Laki-laki tersebut masih terus bernegosiasi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya, karena tidak lama, ketika aku tengah asyik main handphone, kembali ada panggilan dari pengeras suara “keluarga tuan Dimas harap masuk ruang pemeriksaan” aku segera bergegas ke ruang pemeriksaan, dan diarahkan ke ruang Dokter dimana Mas Dimas sedang mendapatkan pelayanan.
Aku turut mendengarkan apa yang disampaikan oleh dokter yang menurutku hampir sama denga napa yang sudah disampaikan oleh perawat. Dokter juga menyampaikan bahwa ia tidak akan memberikan obat, tetapi obat yang sudah diberikan sebelumnya harap diminum sampai habis. Demikian pula dengan obat tetes mata.
Selain itu dokter juga menjadwalkan untuk kontrol selanjutnya. Jadwal kontrol selanjutnya dua minggu lagi. Artinya selama dua minggu kedepan bagian kepala Mas Dimas tidak boleh terkena air.
Setelah selesai dengan dokter, kami segera menuju ke meja pendaftaran klinik mata. Mas Dimas memberikan selembar kertas yang diberikan untuk dokter dan meminta untuk dijadwalkan pemeriksaan selanjutnya yaitu dua minggu kemudian.
Setelah urusan di lantai dua selesai, kami segera menuju ke lantai satu untuk segera pulang. Namun sesampainya di lantai satu, Mas Dimas mengajak untuk naik terlebih dahulu ke lantai 7, dimana di lantai 7 inilah ruang kerja Mas Dimas.
Lantai 7, tempat Mas Dimas bekerja susasanya tidak terlalu ramai. Hal ini karena di lantai ini khusus untuk pelayanan eksklusif. Di lantai ini ada ruang tunggu yang sangat mewah, ada sofa yang nyaman untuk duduk jika dibandingkan kursi di ruang tunggu lantai satu.
Aku menunggu beberapa saat. Mas Dimas menyelesaikan segala urusannya di ruang kerjanya. Setelah segala urusan selesai kami segera menuju ke lantai satu dan segera kembali ke rumah. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Sebelumnya Mas Dimas menyarankan untuk naik mobil saja, tetapi karena letak rumah sakit dan rumah tidak terlalu jauh, aku mengusulkan tetap berjalan kaki.
Sesampai di
rumah aku meminta Mas Dimas untuk beristirahat kembali dan benar-benar
memanfaatkan waktu cutinya. Sementara aku kembali beraktifitas seperti biasa
dengan pekerjaan-pekerjaan yang sudah menunggu untuk segera diselesaikan.
Jakarta, 6
November 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar