Aku masih malas-malasan diatas tempat tidur sambil mainan handphone ketika panggilan dari Mas Dimas masuk. “ya halo mas…” aku langsung menjawab panggilan itu.
Padahal aku tipe orang yang males menjawab panggilan dari siapapun. Tetapi aku tahu, pagi ini Mas Dimas ada rencana melakukan operasi mata. Rencana itu ia sampaikan semalam. Ia sempat meminta aku untuk menemaninya. Menurutnya operasi kali ini harus ada yang bersedia mendampingi. Paling tidak buat jaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketika dia menyampaikan hal itu, aku langsung menyanggupinya. Mengingat hari ini aku belum ada agenda selain mengikuti seminar melalui zoom. Kegiatan itupun baru akan mulai jam satu, sehingga pagi hari aku masih bisa menemani Mas Dimas operasi.
Namun Mas Dimas membatalkannya. Hal itu dia lakukan karena sebelum meminta aku menemaninya, ia sudah meminta Dio, anak kos di kamar nomor satu untuk menemaninya. Dio pun menyanggupinya.
Sebelum ke Dio, Mas Dimas memang mengirim pesan, tapi karena aku sedang asyik membaca buku, aku baru menyadarinya satu jam setelahnya. Karena aku tak juga membalas pesannya, Mas Dimas mengira aku sudah tertidur, makanya dia langsung menuju kamar Dio untuk meminta menemaninya.
“Mas Joko lagi sibu ngak?” Mas Dimas langsung menjawab telponku dari seberang sana
“Ngak sih mas…knapa?” jawabku
Mas Dimas langsung memberi penjelasan kalau ia mendapatkan jadwal operasi pertama. Pihak Rumah Sakit tidak akan melaksanakan operasi sebelum pendampingnya ada. Dio yang semalam sudah menyanggupi untuk mendampinginya tidak bisa di kontak.
“Loh dia lagi telpon tuh mas” aku memberi pejelasan pada Mas Dimas terkait dengan Dio yang tidak juga menjawab panggilan dari Mas Dimas.
Aku buru-buru keluar kamar menuju kamar Dio yang baru saja mengakhiri panggilan telponnya. Aku langsung bertanya apakah dia jadi mendampingi Mas Dimas di Rumah Sakit atau tidak, karena Mas Dimas beberapa kali menelpon belum di jawab. Aku langsung memberikan telpon yang masih menyambung dengan Mas Dimas ke Dio.
“Halo Pak….jadi pak” Demikian kata Dio menjawab pertanyaan Mas Dimas.
“Tapi Pak pagi ini saya harus ambil foto, sepertinya saya tidak bisa” Dio pun langsung memberi penjelasan lanjutan ke Mas Dimas.
Ternyata telpon yang barusan diterima oleh Dio adalah telpon panggilan untuk menyerahkan foto. Dio sendiri berada di Jakarta sedang proses pendaftaran menjadi anggota TNI, maka dia dapat menerima panggilaan sewaktu-waktu.
Semalam ketika Mas Dimas meminta kesediaannya untuk menemani di meja operasi pagi ini, dia belum memiliki agenda apapun. Dia baru dikontak pagi ini untuk menyerahkan foto sebagai pelengkap dari berkas yang sudah dikumpulkannya.
Karena Dio tidak dapat menemani Mas Dimas, sementara kehadiran pendamping ini sangat penting dalam proses operasi, karena tanpa ada pendamping pihak rumah sakit tidak akan melakukan tindakan, aku pun langsung menjawab bahwa aku bisa mendampinginya.
“Aku bisa mas, tetapi aku mandi dan siap-siap dulu ya” demikian aku menjawab Mas Dimas yang ada di seberang sana setelah mendapatkan kepastian dari Dio kalau dia tidak dapat mendampingi mas Dimas pagi ini.
“Mas Joko bisa cepat ngak? Karena butuh cepat” mas Dimas memastikan lagi apakah proses siap-siap untuk menuju Rumah Sakit bisa cepat atau tidak.
Aku pun menjawab akan aku usahakan.
Setelah telpon mas Dimas ditutup, aku segera menuju ke kamar mandi untuk segera bersiap. Tak butuh waktu lama, karena memang aku tipe orang yang kalau mandi pasti akan cepat. Aku langsung bersiap-siap untuk berangkat.
Aku mengecek kembali handphoneku yang ternyata ada pesan dari Mas Dimas “Mas Joko sudah ada dimana” demikian pesan di hpku.
Sambil berjalan aku menjawab pesan Mas Dimas “OTW ya mas” demikian jawabku singkat.
Aku berjalan cepat, setengah berlari. Untung saja letak Rumah Sakitnya tidak jauh. Sekitar 500 meter dari tempat kita tinggal. Namun dalam keadaan buru-buru 500 meter terasa agak jauh.
Sesampainya di Rumah Sakit aku langsung bertanya pada satpam keberadaan klinik mata. Sebelumnya Mas Dimas sudah menyampaikan kalau Klinik Mata ada dilantai 2. Tapi bagi aku yang tidak pernah masuk rumah sakit tentu saja mengalami kebingungan. Ditambah Rumah Sakit pada pagi itu penuh dengan Pasien.
Ketika ketemu Satpam di lantai satu aku langsung bertanya kalau mau ke klinik mata sebelah mana. Satpam memerintahkanku untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku memberi penjelasan bahwa aku hanya akan menunggu saudara yang akan melakukan operasi.
Aku segera bergegas menuju lantai dua menggunakan escalator yang ditunjukan oleh satpam tadi. Sesampai di lantai dua aku kembali mengalami kebingungan. Aku coba celingak celinguk, tidak nampak batang hidung Mas Dimas yang aku kenal. Sementara diarea ruang tunggu klinik mata cukup banyak orang mengantri.
Lantai dua ini bukan hanya klinik mata saja, ternyata ada 16 klinik lainnya seperti klinik jantung, klinik paru-paru, klinik kulit dan kelamin, klinik kosmetik, klinik gigi dan lain sebagainya. Itu mengapa lantai dua nampak penuh dengan pasien dan juga yang mengantarkannya.
Aku segera menelpon Mas Dimas dan menginformasikan bahwa aku sudah ada di lantai dua. Mas Dimas segera keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung mendapati aku yang sedang mencarinya.
Mas Dimas langsung mengajak aku untuk masuk ke ruang pemeriksaan dan menginformasikan ke petugas bahwa yang mendampinginya sudah ada.
Sebagai seseorang yang akan mendampinginya dan bertanggung jawab selama Mas Dimas menjalani operasi, petugas memberi beberapa pengarahan kepadaku, misalnya dia memastikan bahwa aku akan mendampinginya, memastikan bahwa aku akan mengambilkan obat yang diresepkan dokter setelah operasi selesai dan memastikan Mas Dimas meminumnya, memastikan aku akan ambil jadwal mas Dimas untuk kontrol besuk pagi dan lain sebagainya. Aku mengikuti arahan dari petugas.
Aku sendiri sebenarnya agak bingung. Karena jujur saja aku jarang masuk rumah sakit. Dan aku pikir aku hanya akan mendampingi Mas Dimas begitu saja. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang menjadi tugasku sebagai pendamping pasien yang akan dioperasi.
Setelah semua penjelasan selesai kami berdua langsung pamit untuk menuju lantai tiga, lantai dimana tindakan operasi akan dilakukan.
Sebagai salah satu pekerja di Rumah Sakit, banyak orang yang mengenal Mas Dimas. Sepanjang jalan menuju lantai tiga cukup banyak yang menyapanya, menanyakan apa yang akan dilakukan. Mas Dimas sempat memberi penjelasan terhadap beberapa orang yang ia temui dijalan atas tindakan yang akan segera dilakukannya.
Demikian pula ketika kami sampai di lantai tiga. Satpam yang bertugas dilantai tiga ternyata juga sudah menunggu. Sebelumnya dia tidak tahu kalau Dimas yang akan menjalani operasi mata pagi ini adalah Dimas yang selama ini bekerja di lantai 7.
Setelah basa basi sebentar Mas Dimas diantar ke ruangan untuk ganti.
Aku sendiri sebagai pendamping memilih untuk berdiri di lorong dekat dengan lisf pasien dan pengunjung. Di lorong itu ada beberapa kursi roda yang di pakir. Kursi roda yang dipakai oleh pasien yang sedang menunggu tindakan operasi.
Belum begitu lama, tiba-tiba Mas Dimas keluar dari ruang ganti. Ia meminta aku untuk kembali ke lantai dua karena dokter penjaga membutuhkan dokumen SEP. Aku sendiri tidak tahu apa itu SEP. Aku sempat menulis di handphone, takut aku lupa.
Sesampai di lantai dua, di ruang pemeriksaan, aku langsung menyampaikan kalau Mas Dimas membutuhkan dokumen SEP kepada petugas yang sedang berjaga. Aku menyampaikan bahwa SEP tersebut masih ada di Bu Wulan. Petugas yang aku sendiri tidak tahu namanya, setelah selesai menangani pasien langsung mencari Bu Wulan untuk menanyakan tentang SEP tersebut.
Setelah beberapa saat, petugas itu keluar dan menyampaikan bahwa SEP sudah diserahkan ke Mas Dimas.
Aku segera kembali ke lantai tiga melewati tangga darurat. Sesampai di lantai tiga aku tidak langsung masuk ke ruangan dimana Mas Dimas sedang ganti baju, karena menurutku ruangan itu hanya diperuntukan bagi petugas dan pasien.
Aku memilih tetap berdiri di lorong dekat dengan lift sambil memainkan handphone. Beberapa pasien datang silih berganti. Kursi roda yang ketika aku datang pertama tadi ada dua, ketika aku datang kembali sudah tidak ada. Namun beberapa saat datang lagi kursi roda yang digunakan oleh pasien yang sedang menunggu proses operasi.
Setelah beberapa saat, satpam yang ada di lantai tiga menyuruhku untuk masuk ke ruang tempat Mas Dimas menganti pakaian guna mengambil baju gantinya. Sesampai di ruangan, Mas Dimas sudah duduk di atas kursi roda dan sudah berganti dengan pakaian operasi. Ia langsung menyerahkan pakaiannya dan menyampaikan kalau dokumen SEP sudah ada di kantongnya dan sudah diserahkan pada petugas..
Aku segera mengambil pakaiannya dan sepatunya. Satpam mengantarkan aku ke ruang tunggu. Ia menyuruh aku untuk menunggu sampai nanti dipanggil kembali.
Aku membawa barang-barang mas Dimas, baju, sepatu dan tas kecil tempat dia menaruh dokumen, minuman dan Hp ke ruang tunggu.
Di ruang tunggu yang letaknya tepat di depan pintu masuk anesty sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu entah saudara atau tetangga yang juga sedang menjalani operasi. Aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Tidak banyak tempat duduk yang kosong. Aku memilih seadanya. Aku memilih tempat duduk yang agak berada di pojok.
Setelah merasa mendapat posisi yang nyaman aku segera mengeluarkan handphoneku. Jam di handphoneku menjukan waktu belum ada jam 9 pagi. Semalam Mas Dimas menyampaikan kalau operasinya akan dilakukan jam 10 dan paling tidak memakan waktu satu jam. Tapi jam setengah sembilan iya sudah berganti baju. Aku berfikir mungkin operasinya dimajukan. Kalau operasi akan memakan waktu satu jam artinya sebelum jam 10 sudah selesai.
Aku mengeluarkan handphoneku. Aku membaca beberapa artikel di instagram. Setelah bosan dengan scrolling Instagram aku memainkan beberapa permainan yang ada di handphone.
Sesekali aku memperhatikan keluarga-keluarga pasien yang ada di ruang tunggu. Ada muka-muka lelah, ada muka pasrah dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka.
Orang-orang yang berada di ruang tunggu datang silih berganti. Beberapa masuk ke ruang tunggu karena harus menjalani anesty. Ada juga yang memang sedang menunggu Keluarganya yang sedang menjalani operasi. Ternyata ada berbagai macam operasi yang sedang dilakukan. Samar-samar aku mendengar kalau ia sedang menunggu saudaranya yang sedang operasi ginjal. Ada juga yang sedang gelisah karena sudah satu jam lebih masuk ruang operasi belum ada tindakan.
Banyak cerita silih berganti yang aku dengar tetapi hanya samar-samar. Aku hanya focus dengan handphoneku dan berharap operasi Mas Dimas segera selesai.
Aku mulai gelisah ketika sudah mendekati jam 11 belum ada panggilan juga dari satpam. Aku baru tahu kalau pasien sudah selesai operasi, satpam akan memanggil keluarga pasien. “Keluarga Bapak Hartono” demikian suara satpam yang nyaring.
Panggilan demi panggilan silih berganti, tetapi panggilan keluarga Dimas belum juga terdengar. Ruang tunggu yang tadi ketika aku datang ramai, sudah mulai sepi dan ramai lagi.
Aku sempat terkecoh, aku pikir ada Satpam yang memanggilku. Aku sempat berdiri membawa semua barang-barang. Setelah beberapa saat aku menyadari bahwa Satpam itu tidak memanggilku. Dengan rasa malu, aku kembali duduk ke tempat duduk semula.
Tiba-tiba handphone Mas Dimas berbunyi. Tadi sebelum dia masuk ke ruang operasi, Mas Dimas menyampaikan kalau ada telpon diangkat saja. Aku langsung melihat handphone mas Dimas. Ternyata bunyi itu bukan karena ada panggilan masuk, tetapi alarm bahwa waktu azan dzuhur sudah tiba. Aku segera mematikan handphone itu. Aku kembali focus dengan handphonku lagi sambil tetap memasang telingga siapa tahu ada panggilan.
Aku sudah mulai gelisah, karena sudah hampir tiga jam, operasi Mas Dimas belum selesai. Aku sendiri tidak ada persiapan apapun untuk menunggu Mas Dimas. Aku belum sempat sarapan, belum sempat minum teh panas dan susu. Aku tidak membawa air putih. Tapi aku masih bersyukur aku sempat memasukan susu kotak yang aku beli beberapa minggu yang lalu.
Sebenarnya rasa lapar itu sudah ada dari tadi. Namun aku tidak kepikiran untuk pergi ke kantin untuk mencari makanan. Ada ketakutan ketika aku sedang tidak ada di tempat tiba-tiba ada panggilan “Keluarga Dimas”
Maka ketika rasa lapar muncul aku hanya meminum susuku. Sebenarnya hanya susu tidak cukup, aku butuh air putih. Apalagi ketika tiba-tiba tenggorokan gatal. Tapi apa boleh buat. Aku mencoba menghilangkannya dengan ludahku.
Setelah hampir jam setengah satu tiba-tiba ada panggilan “keluarga Dimas”. Aku langsung bergegas mengikuti satpam tersebut. Satpam mengantarkanku ke ruang tunggu lain yang letaknya di sebelah lorong tempat tadi pertama aku mengantar Mas Dimas. Di Lorong itu sudah ada beberapa keluarga pasien yang juga sedang menunggu keluarganya selesai operasi. Satpam memerintahkanku untuk duduk di pojok sambil menunggu panggilan.
Setelah kurang lebih 15 menit menunggu akhirnya aku dipanggil. Kembali aku menuju satu ruangan lain yang steril. Aku masuk dengan terlebih dahulu membuka sandalku. Di ruangan itu aku menunggu beberapa saat hingga kemunculan Mas Dimas keluarga dari ruang operasi. Mas Dimas duduk di kursi roda, dengan mata sebelah kanannya di perban warna putih.
Dokter memberi beberapa penjelasan yang harus dipatuhi. Ada beberapa pantangan yang harus dilakukan misalnya tidak diperbolehkan terlalu nunduk, mata tidak boleh kena air, kalau mandi hanya diperbolehkan dari leher ke bawah, obat harus segera diambil di farmasi, obat tetes tidak boleh digunakan sampai besuk waktu pemeriksaan lagi, memastikan ambil antrian untuk besuk pemeriksaan dan pembukaan perban, obat yang harus diminum dan lain sebagainya.
Apa yang disampaikan oleh perawat, sebenarnya sudah di ketik. Sebelum akhirnya dia meninggalkan kami dia memberikan ketikan itu “ini biar tidak lupa” demikian katanya.
Aku segera menyerahkan baju ganti Mas Dimas. Mas Dimas menganti baju operasi dengan baju biasa di pojok ruangan yang dipasang korden yang bisa dibuka tutup. Mas Dimas membutuhkan waktu beberapa lama untuk dapat ganti baju. Mungkin efek operasi atau mungkin saja obat biusnya masih bereaksi sehingga dia harus fokus.
Setelah semua selesai aku segera mengajaknya ke luar ruangan. Benar saja yang aku takutkan, Mas Dimas menabrak pintu kaca. Dia tidak melihat adanya pintu kaca. Hal tersebut terjadi karena mata kanan diperban, sedangkan dia sendiri tidak menggunakan kaca mata yang selama ini telah membantu untuk melihat.
Aku sendiri sebenarnya agak kaget ketika mengetahui bahwa minusnya sudah mencapai 18. Aku yang belum ada 3 udah merasa susah, bagaimana mencapai 18. Itu mengapa pintu kaca sebesar itu dia tidak melihatnya.
Aku membimbing Mas Dimas untuk duduk dikursi agar dia bisa memakai sepatunya. Setelah operasi memang Mas Dimas tidak boleh terlalu banyak menunduk atau tenggok kanan kiri, sehingga berjalanpun dia seperti robot. Memakai sepatu yang bisa dilakukan ketika menunduk, namun larangan menunduk membuat pekerjaan yang mudah pasti menjadi sulit.
Setelah berhasil memakai sepatu kita segera menuju ke lift karena harus kembali ke lantai dua untuk ambil jadwal kontrol esuk hari. Tadinya aku ingin mengajak Mas Dimas lewat tangga darurat, toh hanya satu lantai. Tapi tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan karena bahaya apalagi dia tidak boleh terlalu menunduk. Maka walau hanya turun satu lantai kita tetap menggunakan lift. Di depan lift banyak rekan-rekan mas Dimas yang menyapanya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku membiarkannya sambil terus mendampingi.
Demikian juga setelah sampai di lantai dua, satpam yang berdiri dipojokan langsung menyapanya “jalannya jangan kayak robot gitu dong” godanya.
Aku sebenarnya ingin tertawa, tetapi kasihan juga. Akutidak tahu kalau itu terjadi pada diriku. Yang aku lakukan hanya memastikan Mas Dimas berjalan pada jalur yang tepat dan tidak menganggu lalu lalang pasien lainnya. Aku sempat menawarkan untuk mengandengnya, namun ia mengatakan masih bisa berjalan denga nyaman.
Aku segera menuju ke meja pendaftaran, depat pintu masuk klinik mata yang tadi pagi aku sudah masuk. Mas Dimas tidak mendekat. Aku pikir memang dia tidak ingin terlalu mendekat agar komunikasi dengan perawat aku yang melakukan. Tapi ternyata hal itu ia lakukan karena dia tidak tahu apakah poisisinya sudah mendekati meja atau belum. Maklum dia tidak menggunakan kacamatanya sehingga tidak dapat melihat dengan cukup jelas.
Sesampai di meja perawat, ia langsung menyerahkan kertas yang berisi jadwa kontrol besuk pagi jam 7.30. Aku langsung menerimanya dan memasukan ke dalam tas. Mas Dimas sempat basa basi sebentar dengan petugas yang belakangan aku ketahui namanya Mbak Nova.
Sebelum meninggalkan lantai dua, Mas Dimas masuk kembali ke ruang pemeriksaan untuk mengucapkan terima kasih. Beberapa rekan kerjanya yang ada di lantai dua menyuruhnya tetap menggunakan kaca mata. Mas Dimas mencoba memakai kacamatanya dan ternyata perban yang ada dimata kanannya tidak terlalu menganggu penggunaan kacamatanya. Maka akhirnya ia gunakan kaca matanya.
Setelah menggunakan kacamata, Mas Dimas kembali dapat melihat dengan jelas. Walau hanya dengan mata kiri. Namun jalannya masih seperti robot karena dia tidak berani untuk menunduk atau tenggok kanan dan kiri.
Awalnya ketika harus melewati escalator aku khawatir mas Dimas akan mengalami kesulitan. Namun ternyata dia dapat melewati dengan mudah. Di Eskalator ada rekan kerjanya yang menyapanya dan menanyakan tidakan dokter Heru bagaimana. Mas Dimas sedikit berbagi atas proses operasi yang dilakukan lebih dari tiga jam yang baru saja dilalui. Cerita Mas Dimas itu juga telah memotivasi rekan kerjanya untuk juga akan mengambil tindakan yang sama dengan Mas Dimas.
Kami segera menuju Farmasi. Aku yang memang tidak tahu seluk beluk rumah sakit ini sebenarnya mengalami kebingungan. Ruang Farmasi tepat berada di depan escalator. Atas petunjuk Mas Dimas aku segera meletakan kertas dari ruang operasi ke kotak yang ada di meja farmasi. Seorang perempuan yang sedang bertugas sedang melayani pasien lainnya. Mas Dimas sempat menyapanya. Aku langsung saja meletakan kerja tersebut di tempat yang kosong.
Aku meminta Mas Dimas untuk mencari tempat duduk. Sedangkan aku memilih berdiri tidak jauh dari escalator. Ruang tunggu farmasi cukup penuh, sehingga tidak banyak tempat duduk yang kosong.
Setelah beberapa saat, ada tempat duduk yang kosong. Aku segera menghampirinya. Tempat duduk tersebut tidak jauh dari Mas Dimas, sehingga aku masih tetap bisa mengawasinya.
Belum lama duduk, panggilan mengambil obat atas nama Mas Dimas terdengar. Padahal aku sedang berfikir bagaimana mengetahui kalau obatnya selesai, sedangkan dilayar hanya tertera nomor-nomor panggilan. Aku sempat menyesal kenapa tidak menghafal nomor yang ada dikertas tadi sebelum diserahkan ke Farmasi. Namun kekhawatiranku tidak berarti. Nama Mas Dimas sudah dipanggil dan kami segera menuju ke meja.
Ada beberapa penjelasan yang disampaikan oleh petugas, yaitu bagaimana harus meminum obat, obatnya apa saja dan lain sebagainya “Obat tetesnya jangan digunakan dulu ya, dipakai besuk kalau perbannya sudah dibuka” demikian pesan petugas.
Setelah segala urusan di meja farmasi selesai kami segera meninggalkan ruangan tersebut untuk segera pulang. Kami sempat diskusi bagaimana mau pulang, apakah jalan kak,i naik ojek atau naik mobil. Aku sempat menyarankan Mas Dimas untuk naik ojek sedangkan aku akan jalan kaki saja. Namun Mas Dimas ingin kita berdua sama-sama naik mobil saja. Maka dia akan segera memesan mobil.
Sebelum kita memesan mobil, di lorong rumah sakit ada beberapa rekan Mas Dimas yang menyapa. Ada beberapa orang yang kaget atas apa yang telah terjadi dengan Mas Dimas. Aku sempat membantu untuk memfoto Mas Dimas dengan dua orang rekannya yang aku ketahui mereka sama-sama dari lantai 7.
Salah satu rekan Mas Dimas yang kita temui di Lorong ternyata Kepala Ruangan, Namanya Ibu Kristin. Ia sempat bertanya dimana kami tinggal. Aku menyampaikan bahwa kami tinggal di Jalan SMEA 6, tidak jauh dari rumah sakit. Bu Kristin tidak mengijinkan kami langsung pulang. Ia mengajak kami untuk makan terlebih dahulu di seberang rumah sakit.
Sebagai kepala ruangan tempat Mas Dimas bekerja, Bu Kristin sangat perhatian. Dia yang mengandeng Mas Dimas dari mulai keluar rumah sakit, menyeberang jalan raya hingga sampai rumah makan. Bu Kristin pula yang memesankan makan siang untuk kita bertiga. Kebetulan pesanan kita sama yaitu soto mie.
Sambil makan mereka mendiskusikan kondisi lantai 7 hari itu. Selain Mas Dimas, ada satu pekerja lagi yang juga sedang cuti. Kalau Mas Dimas mendapatkan cuti 3 hari rekan kerjanya hanya satu hari. Aku baru tahu kalau hari itu akan ada pemeriksaan sebanyak 80 orang di lantai 7. Tapi aku tidak tahu persis. Sebenarnya Mas Dimas sering cerita terkait dinamika yang terjadi di lantai 7, namun aku sendiri tidak terlalu memperhatikan.
Selama kami menyantap makan siang, banyak rekan-rekan Mas Dimas yang menyapa dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Aku hanya memperhatikan saja.
Bu Kristin benar-benar memperhatikan Mas Dimas. Ia meminta Mas Dimas untuk naik ojek pengkolan saja dari pada ojek online, mengingat tempat tinggal kami tidak terlalu jauh. Bu Kristin sempat memberi uang tunai kepada Mas Dimas untuk membayar ojek pengkolan. Tidak hanya itu, dia juga turut mencarikan ojek pengkolan dan memastikan Mas Dimas pulang dengan selamat.
Setelah Mas Dimas naik ojek, akupun segera bergegas untuk pulang. Tak lupa aku ucapkan banyak terima kasih atas traktiran Bu Kristin hari itu dan perhatiannya pada Mas Dimas. Kami berpisah , aku menuju kos dan Bu Kristin kembali ke rumah sakit.
Aku bergegas menuju ke kos, dibawah terik matahari Jakarta tengah hari.
Sesampai di di kos, Mas Dimas telah duduk di kursi. Aku memastikan kembali apakah Mas Dimas bisa naik tangga menuju ke lantai 2 atau tidak. Mengingat tangga kos kita agak sulit dilewati, ditambah pengelihatan Mas Dimas yang masih terganggu karena tidak boleh menunduk serta masih ada efek dari operasi.
Namun teryata
ia tidak membutuhkan bantuanku. Dia dapat melewati tangga dengan cukup baik
hingga depan kamarnya. Sesampai depan kamarnya aku langsung menyuruhnya untuk
istirahat dengan terlebih dahulu minum obatnya. Aku harus memastikan obatnya
diminum, karena hari ini akulan yang dipercaya oleh pihak rumah sakit untuk
mendampinginya. Akulah pendamping operasi hari ini.
Jakarta, 4
November 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar