Rabu, 04 November 2026

Sebulan Setelah Menjadi Pengangguran

Tak terasa hari ini sebulan sudah aku berhenti bekerja. Itu artinya sudah sebulan aku tidak lagi menjadi bagian dari kantor yang sudah hampir 17 tahun menjadi tempatku mengabdi. Aku menggunakan kata “mengabdi” karena memang ketika bergabung bukan hanya uang yang aku cari, tetapi keluarga, pengalaman dan pengabdian.

Selama hampir 17 tahun tentu banyak sekali pengalaman yang aku peroleh. Aku yang awalnya tidak banyak tahu apa-apa dan tidak memiliki pengalaman dalam melakukan pengorganisasian masyarakat, akhirnya aku mampu melakukannya. Berada di masyarakat menjadikan aku mendapatkan pengalaman dan kaya akan ilmu, karena menurutku masyarakatlah sumber ilmu sejati.

Ketika mengambil keputusan untuk berhenti bekerja memang sangat berat. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah keputusan itu aku ambil. Tetapi nyatanya aku tetap mengambilnya. Tentu dengan banyak pertimbangan. Ada rasa bimbang, takut dan lain sebagainya. Semua campur aduk.

Keinginan untuk mengundurkan diri sebenarnya sudah cukup lama. Bahkan aku sudah beberapa kali mengungkapkannya. Satu hal yang paling aku ingat, tahun 2019 aku pernah mengirimkan surat pengunduran diriku. Tapi surat itu tidak pernah ditanggapi.

Akhir tahun 2022 aku juga bersiap untuk mengundurkan diri. Setelah peristiwa “pembantaian” diacara refleksi tahunan program, hatiku hancur. Aku sempat menanggis sendirian di kamarku. Saat itu aku bertekad untuk mengundurukan diri.

Aku mulai menyiapkan diri untuk tidak lagi bekerja. Aku mulai merintis untuk memiliki usaha. Namun nyatanya semua berlalu begitu saja. Aku sempat kembali ke Jakarta. Mencoba menata hidup setelah peristiwa refleksi tahunan itu yang telah menghancurkan hatiku. Namun nyatanya aku kembali lagi ke lapangan.

Walau aku tidak jadi mengundurkan diri, namun aku tetap memulai usahaku. Adik iparku dan keponakanku yang mengelolanya. Karena kami tidak punya pengalaman, pengelolaannya tidak maksimal. Namun walau tidak maksimal, usaha ini berhasil bertahan selama tiga tahun dan akhirnya awal tahun ini kami memutuskan untuk menutup usaha.

Sebulan setelah tidak lagi berkantor mungkin menjadi sesuatu yang berat bagiku. Apalagi resign kali ini juga meninggalkan pengalaman yang sangat menyakitkan. Pengalaman yang tentu akan sangat membekas dalam pikiranku. Bahkan aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku bisa “sembuh” atas apa yang sudah terjadi.

Ada rasa bosan, ada rasa takut, ada rasa marah dan lain sebagainya yang bercampur dibenakku hari ini.

Aku sendiri tidak tahu apakah keputusan resign ditengah kondisi ekonomi negeri ini yang sedang tidak baik-baik saja sudah tepat? Tapi memutuskan untuk bertahanpun sepertinya aku tak sanggup. Sampai kapan aku akan bertahan? Sampai kapan aku akan menjalani hal-hal yang aku sendiri merasa tidak nyaman untuk melakukannya. Dan tentu saja paska “pengadilan” yang sudah dilakukan, semua tidak akan baik-baik saja.

Akhirnya aku sendiri harus mensyukuri bahwa keputusan mengundurkan diri adalah sebuah keputusan yang tepat. Walau sampai hari ini aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Sampai hari ini masih ada rasa takut, takut kalau akhirnya aku tidak mendapatkan pekerjaan yang baru. Takut kalau aku tidak punya uang lagi. Takut…..takut….takut, banyak ketakutan yang seringkali muncul dalam benakku.

Aku sering berfikir masih adakah harapan itu? Masih bisakah aku bekerja lagi? Masih adakah yang akan menerima aku untuk bekerja? Sering kali pertanyaan itu muncul hingga menimbulkan rasa frustasi dalam diriku.

Satu bulan pertama sudah berhasil dilalui. Aku bisa melaluinya karena ada banyak hal yang masih bisa aku kerjakan, salah satunya komitmenku untuk terlibat dalam satu kegiatan pelatihan. Aku sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam kegiatan tersebut setelah aku tidak lagi bergabung dengan organisasiku yang dulu. Namun mereka sebagai yang memiliki kegiatan tetap memintaku untuk tetap bergabung dalam kegiatan, tidak atas nama organisasi tetapi atas nama individu.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap terlibat dalam kegiatan tersebut. Kondisiku yang sudah tidak memiliki ikatan dengan siapapun justru mempermudah aku terlibat dalam kegiatan tersebut. Aku dapat fokus menyelesaikan materi-materi yang akan digunakan dalam pelatihan.

Dan ternyata hal tersebut juga sangat membantu aku untuk tidak gelisah atas kondisi yang ada.

Namun, setelah bulan pertama dilalui dan belum ada “lampu hijau” untuk pekerjaan selanjutnya, aku mulai resah, aku mulai bertanya-tanya apakah mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan lagi?

Sudah ada tiga lowongan pekerjaan yang coba aku apply. Namun sayangnya sampai hari ini, kabar baik itu belum datang juga.

Dua lowongan kerja yang aku apply sebenarnya ada di satu tempat. Satu lowongan untuk asisten administrasi dan satu lowongan untuk project officer. Lowongan untuk asisten administrasi aku coba memasukannya karena wilayah kerjanya ada di kampungku. Aku membayangkan bisa bekerja di kampung, berkumpul dengan keluarga dan tentu saja bisa sambil memulai untuk membuat usaha baru di kampung.

Tapi sayangnya sepertinya aku belum berjodoh. Dari informasi yang aku peroleh manajer programnya mengatakan sayang pengalamanku kalau aku hanya sebagai asisten administrasi, karena seharusnya dengan pengalaman yang ada aku bisa pegang untuk posisi setingkat manager.

Posisi yang kedua, sebagai project officer sepertinya aku juga belum berjodoh. Mungkin hal ini juga sama, untuk pengalaman-pengalaman yang sudah aku cantumkan di CV, tidak lagi cocok untuk mengisi posisi sebagai project officer. Harusnya memang dari awal aku melamarnya sebagai project manajer.

Sempat ada kabar baik, bahwa aku akan ditawarkan untuk memegang project yang hampir sama dengan apa yang sudah aku lakukan kurang lebih dua tahun terakhir ini. Aku sangat senang mendengar informasi tersebut. Hampir tiap hari aku berdoa semoga kabar baik itu segera datang. Dan hingga hari ini aku masih menunggunya.

Selama satu bulan setelah resign hubunganku dengan teman-teman dikantor juga makin menjauh. Di hari terakhir aku masuk kantor dan aku pamitan, memang banyak yang terkejut. Ada beberapa teman yang kirim pesan pribadi menyatakan keterkejutannya. Namun ternyata itu adalah pesan-pesan terakhir yang dikirimkan mereka, setelah itu tidak ada pesan yang masuk, bahkan untuk menanyakan kondisiku bagaimana?

Ada memang rekan kerjaku yang mengirimkan pesan. Ada beberapa pertanyaan yang terkait dengan hasil kerjaku selama ini. Sakit hatiku ternyata membuatku malas untuk menjawabnya. Bahkan ketika dia bertanya tentang keterlibatan dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang awalnya aku tidak bersedia melanjutkan karena akau sudah resign, aku malas untuk menjawabnya.

Hanya dua orang rekan kerjaku yang benar-benar peduli pada kondisiku saat ini. Walau tidak setiap hari tetapi mereka senantiasa menyakan bagaimana kondisiku, bagaimana kesehatanku, bagaimana keadaanku. Hal tersebut membuat aku senang. Aku merasa ada orang yang masih peduli.

Aku menganggap ini penting karena memang selama ini tidak ada orang yang peduli pada diriku. Apakah aku bekerja, apakah aku sehat, apakah aku sudah makan dan lain sebagainya. Tidak pernah ada orang yang bertanya soal hal tersebut. Mereka selalu berpikiran bahwa aku selalu baik-baik saja.

Dalam catatanku ada dua orang yang sama sekali tidak peduli dengan kondisiku. Saat aku terakhir masuk kantor mereka sedang berada diluar kota karena satu pekerjaan, yang aku sendiri tidak tahu. Karena setelah aku mengirimkan surat pengunduran diriku akses informasiku mulai dibatasi sehingga aku sendiri tidak mengetahui mereka kemana sedang kegiatan apa. Dan sampai hari ini, setelah satu bulan aku tidak lagi bekerja, mereka juga tidak bertanya bagaimana kondisiku?

Inikah persahabatan, inikah kekeluargaan yang selama ini kita degungkan di kantor? Hampir 17 tahun aku mengabdi, tetapi pengabdianku, pengorbananku tidak dihargai sama sekali. Tidak ada penghargaan untuk pengabdian yang cukup lama ini.

Aku menerima? Ya aku harus menerinya, aku harus iklas menerima semuanya. Toh selama ini aku sudah menerimanya dengan diam. Tuduhan-tuduhan, judgment dan lain sebagainya selama ini sudah terlalu sering diarahkan kepadaku…aku memberontak…seingatku aku tidak pernah membantahnya. Aku menerima semuanya, aku memilih untuk diam. Aku memilih……..

Kadang aku putus asa atas kondisi yang hari ini aku jalani. Kadang aku berfikir kenapa hidupku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Dari lahir hingga hari ini cobaan datang silih berganti. Kapan bahagia itu akan datang? Aku seringkali bertanya. Sampai kapan aku akan menghadapi hal ini?

Kata orang setelah ada kesedihan pasti aka nada kebahagian? Namun aku bertanya kapan hal itu datang?

Aku capaik? Iya aku capaik. Seringkali aku berfikir untuk mengakhiri semuanya. Aku ingin segera kembali kepangkuan Tuhan. Capaik menghapi hidup ini, capaik menghadapi semuanya sendirian.

Tapi terkadang aku juga juga berfikir mungkin ini memang takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan sehingga aku harus iklas menjalaninya. Dan aku harus yakin bahwa kebahagiaan akan segera datang.

 

Jakarta, 02 November 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar