Aku masih
malas-malasan diatas tempat tidur sambil mainan handphone ketika panggilan dari
Mas Dimas masuk. “ya halo mas…” aku langsung menjawab panggilan itu.
Padahal aku
tipe orang yang males menjawab panggilan dari siapapun. Tetapi aku tahu, pagi
ini Mas Dimas ada rencana melakukan operasi mata. Rencana itu ia sampaikan
semalam. Ia sempat meminta aku untuk menemaninya. Menurutnya operasi kali ini
harus ada yang bersedia mendampingi. Paling tidak buat jaga-jaga kalau terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketika dia
menyampaikan hal itu, aku langsung menyanggupinya. Mengingat hari ini aku belum ada agenda selain mengikuti seminar
melalui zoom. Kegiatan itupun baru akan mulai jam satu, sehingga pagi hari aku
masih bisa menemani Mas Dimas operasi.
Namun Mas Dimas
membatalkannya. Hal itu dia lakukan karena sebelum meminta aku menemaninya, ia
sudah meminta Dio, anak kos di kamar nomor satu untuk menemaninya. Dio pun
menyanggupinya.
Sebelum ke Dio,
Mas Dimas memang mengirim pesan, tapi karena aku sedang asyik membaca buku, aku
baru menyadarinya satu jam setelahnya. Karena aku tak juga membalas pesannya,
Mas Dimas mengira aku sudah tertidur, makanya dia langsung menuju kamar Dio
untuk meminta menemaninya.
“Mas Joko lagi
sibu ngak?” Mas Dimas langsung menjawab telponku dari seberang sana
“Ngak sih
mas…knapa?” jawabku
Mas Dimas
langsung memberi penjelasan kalau ia mendapatkan jadwal operasi pertama. Pihak Rumah
Sakit tidak akan melaksanakan operasi sebelum pendampingnya ada. Dio yang
semalam sudah menyanggupi untuk mendampinginya tidak bisa di kontak.
“Loh dia lagi
telpon tuh mas” aku memberi pejelasan pada Mas Dimas terkait dengan Dio yang
tidak juga menjawab panggilan dari Mas Dimas.
Aku buru-buru
keluar kamar menuju kamar Dio yang baru saja mengakhiri panggilan telponnya.
Aku langsung bertanya apakah dia jadi mendampingi Mas Dimas di Rumah Sakit atau
tidak, karena Mas Dimas beberapa kali menelpon belum di jawab. Aku langsung
memberikan telpon yang masih menyambung dengan Mas Dimas ke Dio.
“Halo Pak….jadi
pak” Demikian kata Dio menjawab pertanyaan Mas Dimas.
“Tapi Pak pagi
ini saya harus ambil foto, sepertinya saya tidak bisa” Dio pun langsung memberi
penjelasan lanjutan ke Mas Dimas.
Ternyata telpon
yang barusan diterima oleh Dio adalah telpon panggilan untuk menyerahkan foto.
Dio sendiri berada di Jakarta sedang proses pendaftaran menjadi anggota TNI,
maka dia dapat menerima panggilaan sewaktu-waktu.
Semalam ketika
Mas Dimas meminta kesediaannya untuk menemani di meja operasi pagi ini, dia
belum memiliki agenda apapun. Dia baru dikontak pagi ini untuk menyerahkan foto
sebagai pelengkap dari berkas yang sudah dikumpulkannya.
Karena Dio
tidak dapat menemani Mas Dimas, sementara kehadiran pendamping ini sangat
penting dalam proses operasi, karena tanpa ada pendamping pihak rumah sakit
tidak akan melakukan tindakan, aku pun langsung menjawab bahwa aku bisa
mendampinginya.
“Aku bisa mas,
tetapi aku mandi dan siap-siap dulu ya” demikian aku menjawab Mas Dimas yang
ada di seberang sana setelah mendapatkan kepastian dari Dio kalau dia tidak
dapat mendampingi mas Dimas pagi ini.
“Mas Joko bisa
cepat ngak? Karena butuh cepat” mas Dimas memastikan lagi apakah proses
siap-siap untuk menuju Rumah Sakit bisa cepat atau tidak.
Aku pun
menjawab akan aku usahakan.
Setelah telpon
mas Dimas ditutup, aku segera menuju ke kamar mandi untuk segera bersiap. Tak
butuh waktu lama, karena memang aku tipe orang yang kalau mandi pasti akan
cepat. Aku langsung bersiap-siap untuk berangkat.
Aku mengecek
kembali handphoneku yang ternyata ada pesan dari Mas Dimas “Mas Joko sudah ada
dimana” demikian pesan di hpku.
Sambil berjalan
aku menjawab pesan Mas Dimas “OTW ya mas” demikian jawabku singkat.
Aku berjalan
cepat, setengah berlari. Untung saja letak Rumah Sakitnya tidak jauh. Sekitar
500 meter dari tempat kita tinggal. Namun dalam keadaan buru-buru 500 meter
terasa agak jauh.
Sesampainya di
Rumah Sakit aku langsung bertanya pada satpam keberadaan klinik mata.
Sebelumnya Mas Dimas sudah menyampaikan kalau Klinik Mata ada dilantai 2. Tapi
bagi aku yang tidak pernah masuk rumah sakit tentu saja mengalami kebingungan.
Ditambah Rumah Sakit pada pagi itu penuh dengan Pasien.
Ketika ketemu
Satpam di lantai satu aku langsung bertanya kalau mau ke klinik mata sebelah
mana. Satpam memerintahkanku untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku memberi
penjelasan bahwa aku hanya akan menunggu saudara yang akan melakukan operasi.
Aku segera
bergegas menuju lantai dua menggunakan escalator yang ditunjukan oleh satpam
tadi. Sesampai di lantai dua aku kembali mengalami kebingungan. Aku coba
celingak celinguk, tidak nampak batang hidung Mas Dimas yang aku kenal.
Sementara diarea ruang tunggu klinik mata cukup banyak orang mengantri.
Lantai dua ini
bukan hanya klinik mata saja, ternyata ada 16 klinik lainnya seperti klinik
jantung, klinik paru-paru, klinik kulit dan kelamin, klinik kosmetik, klinik
gigi dan lain sebagainya. Itu mengapa lantai dua nampak penuh dengan pasien dan
juga yang mengantarkannya.
Aku segera
menelpon Mas Dimas dan menginformasikan bahwa aku sudah ada di lantai dua. Mas
Dimas segera keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung mendapati aku yang
sedang mencarinya.
Mas Dimas
langsung mengajak aku untuk masuk ke ruang pemeriksaan dan menginformasikan ke
petugas bahwa yang mendampinginya sudah ada.
Sebagai
seseorang yang akan mendampinginya dan bertanggung jawab selama Mas Dimas
menjalani operasi, petugas memberi beberapa pengarahan kepadaku, misalnya dia
memastikan bahwa aku akan mendampinginya, memastikan bahwa aku akan
mengambilkan obat yang diresepkan dokter setelah operasi selesai dan memastikan
Mas Dimas meminumnya, memastikan aku akan ambil jadwal mas Dimas untuk kontrol
besuk pagi dan lain sebagainya. Aku mengikuti arahan dari petugas.
Aku sendiri
sebenarnya agak bingung. Karena jujur saja aku jarang masuk rumah sakit. Dan
aku pikir aku hanya akan mendampingi Mas Dimas begitu saja. Sebenarnya aku
tidak tahu apa yang menjadi tugasku sebagai pendamping pasien yang akan
dioperasi.
Setelah semua
penjelasan selesai kami berdua langsung pamit untuk menuju lantai tiga, lantai
dimana tindakan operasi akan dilakukan.
Sebagai salah
satu pekerja di Rumah Sakit, banyak orang yang mengenal Mas Dimas. Sepanjang
jalan menuju lantai tiga cukup banyak yang menyapanya, menanyakan apa yang akan
dilakukan. Mas Dimas sempat memberi penjelasan terhadap beberapa orang yang ia
temui dijalan atas tindakan yang akan segera dilakukannya.
Demikian pula
ketika kami sampai di lantai tiga. Satpam yang bertugas dilantai tiga ternyata
juga sudah menunggu. Sebelumnya dia tidak tahu kalau Dimas yang akan menjalani
operasi mata pagi ini adalah Dimas yang selama ini bekerja di lantai 7.
Setelah basa basi
sebentar Mas Dimas diantar ke ruangan untuk ganti.
Aku sendiri
sebagai pendamping memilih untuk berdiri di lorong dekat dengan lisf pasien dan
pengunjung. Di lorong itu ada beberapa kursi roda yang di pakir. Kursi roda
yang dipakai oleh pasien yang sedang menunggu tindakan operasi.
Belum begitu
lama, tiba-tiba Mas Dimas keluar dari ruang ganti. Ia meminta aku untuk kembali
ke lantai dua karena dokter penjaga membutuhkan dokumen SEP. Aku sendiri tidak
tahu apa itu SEP. Aku sempat menulis di handphone, takut aku lupa.
Sesampai di
lantai dua, di ruang pemeriksaan, aku langsung menyampaikan kalau Mas Dimas
membutuhkan dokumen SEP kepada petugas yang sedang berjaga. Aku menyampaikan
bahwa SEP tersebut masih ada di Bu Wulan. Petugas yang aku sendiri tidak tahu namanya,
setelah selesai menangani pasien langsung mencari Bu Wulan untuk menanyakan
tentang SEP tersebut.
Setelah
beberapa saat, petugas itu keluar dan menyampaikan bahwa SEP sudah diserahkan
ke Mas Dimas.
Aku segera
kembali ke lantai tiga melewati tangga darurat. Sesampai di lantai tiga aku
tidak langsung masuk ke ruangan dimana Mas Dimas sedang ganti baju, karena
menurutku ruangan itu hanya diperuntukan bagi petugas dan pasien.
Aku memilih
tetap berdiri di lorong dekat dengan lift sambil memainkan handphone. Beberapa
pasien datang silih berganti. Kursi roda yang ketika aku datang pertama tadi
ada dua, ketika aku datang kembali sudah tidak ada. Namun beberapa saat datang
lagi kursi roda yang digunakan oleh pasien yang sedang menunggu proses operasi.
Setelah
beberapa saat, satpam yang ada di lantai tiga menyuruhku untuk masuk ke ruang
tempat Mas Dimas menganti pakaian guna mengambil baju gantinya. Sesampai di
ruangan, Mas Dimas sudah duduk di atas kursi roda dan sudah berganti dengan
pakaian operasi. Ia langsung menyerahkan pakaiannya dan menyampaikan kalau
dokumen SEP sudah ada di kantongnya dan sudah diserahkan pada petugas..
Aku segera
mengambil pakaiannya dan sepatunya. Satpam mengantarkan aku ke ruang tunggu. Ia
menyuruh aku untuk menunggu sampai nanti dipanggil kembali.
Aku membawa
barang-barang mas Dimas, baju, sepatu dan tas kecil tempat dia menaruh dokumen,
minuman dan Hp ke ruang tunggu.
Di ruang tunggu
yang letaknya tepat di depan pintu masuk anesty sudah ada beberapa orang yang
sedang menunggu entah saudara atau tetangga yang juga sedang menjalani operasi.
Aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Tidak banyak tempat duduk yang
kosong. Aku memilih seadanya. Aku memilih tempat duduk yang agak berada di
pojok.
Setelah merasa
mendapat posisi yang nyaman aku segera mengeluarkan handphoneku. Jam di
handphoneku menjukan waktu belum ada jam 9 pagi. Semalam Mas Dimas menyampaikan
kalau operasinya akan dilakukan jam 10 dan paling tidak memakan waktu satu jam.
Tapi jam setengah sembilan iya sudah berganti baju. Aku berfikir mungkin
operasinya dimajukan. Kalau operasi akan memakan waktu satu jam artinya sebelum
jam 10 sudah selesai.
Aku
mengeluarkan handphoneku. Aku membaca beberapa artikel di instagram. Setelah
bosan dengan scrolling Instagram aku memainkan beberapa permainan yang ada di
handphone.
Sesekali aku
memperhatikan keluarga-keluarga pasien yang ada di ruang tunggu. Ada muka-muka lelah,
ada muka pasrah dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka.
Orang-orang
yang berada di ruang tunggu datang silih berganti. Beberapa masuk ke ruang
tunggu karena harus menjalani anesty. Ada juga yang memang sedang menunggu
Keluarganya yang sedang menjalani operasi. Ternyata ada berbagai macam operasi
yang sedang dilakukan. Samar-samar aku mendengar kalau ia sedang menunggu
saudaranya yang sedang operasi ginjal. Ada juga yang sedang gelisah karena
sudah satu jam lebih masuk ruang operasi belum ada tindakan.
Banyak cerita
silih berganti yang aku dengar tetapi hanya samar-samar. Aku hanya focus dengan
handphoneku dan berharap operasi Mas Dimas segera selesai.
Aku mulai
gelisah ketika sudah mendekati jam 11 belum ada panggilan juga dari satpam. Aku
baru tahu kalau pasien sudah selesai operasi, satpam akan memanggil keluarga
pasien. “Keluarga Bapak Hartono” demikian suara satpam yang nyaring.
Panggilan demi
panggilan silih berganti, tetapi panggilan keluarga Dimas belum juga terdengar.
Ruang tunggu yang tadi ketika aku datang ramai, sudah mulai sepi dan ramai
lagi.
Aku sempat
terkecoh, aku pikir ada Satpam yang memanggilku. Aku sempat berdiri membawa
semua barang-barang. Setelah beberapa saat aku menyadari bahwa Satpam itu tidak
memanggilku. Dengan rasa malu, aku kembali duduk ke tempat duduk semula.
Tiba-tiba
handphone Mas Dimas berbunyi. Tadi sebelum dia masuk ke ruang operasi, Mas
Dimas menyampaikan kalau ada telpon diangkat saja. Aku langsung melihat
handphone mas Dimas. Ternyata bunyi itu bukan karena ada panggilan masuk,
tetapi alarm bahwa waktu azan dzuhur sudah tiba. Aku segera mematikan handphone
itu. Aku kembali focus dengan handphonku lagi sambil tetap memasang telingga
siapa tahu ada panggilan.
Aku sudah mulai
gelisah, karena sudah hampir tiga jam, operasi Mas Dimas belum selesai. Aku
sendiri tidak ada persiapan apapun untuk menunggu Mas Dimas. Aku belum sempat
sarapan, belum sempat minum teh panas dan susu. Aku tidak membawa air putih.
Tapi aku masih bersyukur aku sempat memasukan susu kotak yang aku beli beberapa
minggu yang lalu.
Sebenarnya rasa
lapar itu sudah ada dari tadi. Namun aku tidak kepikiran untuk pergi ke kantin
untuk mencari makanan. Ada ketakutan ketika aku sedang tidak ada di tempat tiba-tiba
ada panggilan “Keluarga Dimas”
Maka ketika
rasa lapar muncul aku hanya meminum susuku. Sebenarnya hanya susu tidak cukup,
aku butuh air putih. Apalagi ketika tiba-tiba tenggorokan gatal. Tapi apa boleh
buat. Aku mencoba menghilangkannya dengan ludahku.
Setelah hampir jam
setengah satu tiba-tiba ada panggilan “keluarga Dimas”. Aku langsung bergegas
mengikuti satpam tersebut. Satpam mengantarkanku ke ruang tunggu lain yang
letaknya di sebelah lorong tempat tadi pertama aku mengantar Mas Dimas. Di
Lorong itu sudah ada beberapa keluarga pasien yang juga sedang menunggu keluarganya
selesai operasi. Satpam memerintahkanku untuk duduk di pojok sambil menunggu
panggilan.
Setelah kurang
lebih 15 menit menunggu akhirnya aku dipanggil. Kembali aku menuju satu ruangan
lain yang steril. Aku masuk dengan terlebih dahulu membuka sandalku. Di ruangan
itu aku menunggu beberapa saat hingga kemunculan Mas Dimas keluarga dari ruang
operasi. Mas Dimas duduk di kursi roda, dengan mata sebelah kanannya di perban
warna putih.
Dokter memberi
beberapa penjelasan yang harus dipatuhi. Ada beberapa pantangan yang harus
dilakukan misalnya tidak diperbolehkan terlalu nunduk, mata tidak boleh kena
air, kalau mandi hanya diperbolehkan dari leher ke bawah, obat harus segera
diambil di farmasi, obat tetes tidak boleh digunakan sampai besuk waktu
pemeriksaan lagi, memastikan ambil antrian untuk besuk pemeriksaan dan
pembukaan perban, obat yang harus diminum dan lain sebagainya.
Apa yang
disampaikan oleh perawat, sebenarnya sudah di ketik. Sebelum akhirnya dia
meninggalkan kami dia memberikan ketikan itu “ini biar tidak lupa” demikian
katanya.
Aku segera
menyerahkan baju ganti Mas Dimas. Mas Dimas menganti baju operasi dengan baju
biasa di pojok ruangan yang dipasang korden yang bisa dibuka tutup. Mas Dimas
membutuhkan waktu beberapa lama untuk dapat ganti baju. Mungkin efek operasi
atau mungkin saja obat biusnya masih bereaksi sehingga dia harus fokus.
Setelah semua
selesai aku segera mengajaknya ke luar ruangan. Benar saja yang aku takutkan,
Mas Dimas menabrak pintu kaca. Dia tidak melihat adanya pintu kaca. Hal
tersebut terjadi karena mata kanan diperban, sedangkan dia sendiri tidak menggunakan
kaca mata yang selama ini telah membantu untuk melihat.
Aku sendiri
sebenarnya agak kaget ketika mengetahui bahwa minusnya sudah mencapai 18. Aku yang
belum ada 3 udah merasa susah, bagaimana mencapai 18. Itu mengapa pintu kaca
sebesar itu dia tidak melihatnya.
Aku membimbing
Mas Dimas untuk duduk dikursi agar dia bisa memakai sepatunya. Setelah operasi
memang Mas Dimas tidak boleh terlalu banyak menunduk atau tenggok kanan kiri,
sehingga berjalanpun dia seperti robot. Memakai sepatu yang bisa dilakukan
ketika menunduk, namun larangan menunduk membuat pekerjaan yang mudah pasti
menjadi sulit.
Setelah
berhasil memakai sepatu kita segera menuju ke lift karena harus kembali ke
lantai dua untuk ambil jadwal kontrol esuk hari. Tadinya aku ingin mengajak Mas
Dimas lewat tangga darurat, toh hanya satu lantai. Tapi tentu hal tersebut
tidak bisa dilakukan karena bahaya apalagi dia tidak boleh terlalu menunduk.
Maka walau hanya turun satu lantai kita tetap menggunakan lift. Di depan lift
banyak rekan-rekan mas Dimas yang
menyapanya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku membiarkannya
sambil terus mendampingi.
Demikian juga
setelah sampai di lantai dua, satpam yang berdiri dipojokan langsung menyapanya
“jalannya jangan kayak robot gitu dong” godanya.
Aku sebenarnya
ingin tertawa, tetapi kasihan juga. Akutidak tahu kalau itu terjadi pada
diriku. Yang aku lakukan hanya memastikan Mas Dimas berjalan pada jalur yang
tepat dan tidak menganggu lalu lalang pasien lainnya. Aku sempat menawarkan
untuk mengandengnya, namun ia mengatakan masih bisa berjalan denga nyaman.
Aku segera
menuju ke meja pendaftaran, depat pintu masuk klinik mata yang tadi pagi aku
sudah masuk. Mas Dimas tidak mendekat. Aku pikir memang dia tidak ingin terlalu
mendekat agar komunikasi dengan perawat aku yang melakukan. Tapi ternyata hal
itu ia lakukan karena dia tidak tahu apakah poisisinya sudah mendekati meja
atau belum. Maklum dia tidak menggunakan kacamatanya sehingga tidak dapat
melihat dengan cukup jelas.
Sesampai di
meja perawat, ia langsung menyerahkan kertas yang berisi jadwa kontrol besuk
pagi jam 7.30. Aku langsung menerimanya dan memasukan ke dalam tas. Mas Dimas
sempat basa basi sebentar dengan petugas yang belakangan aku ketahui namanya
Mbak Nova.
Sebelum
meninggalkan lantai dua, Mas Dimas masuk kembali ke ruang pemeriksaan untuk
mengucapkan terima kasih. Beberapa rekan kerjanya yang ada di lantai dua
menyuruhnya tetap menggunakan kaca mata. Mas Dimas mencoba memakai kacamatanya
dan ternyata perban yang ada dimata kanannya tidak terlalu menganggu penggunaan
kacamatanya. Maka akhirnya ia gunakan kaca matanya.
Setelah
menggunakan kacamata, Mas Dimas kembali dapat melihat dengan jelas. Walau hanya
dengan mata kiri. Namun jalannya masih seperti robot karena dia tidak berani
untuk menunduk atau tenggok kanan dan kiri.
Awalnya ketika
harus melewati escalator aku khawatir mas Dimas akan mengalami kesulitan. Namun
ternyata dia dapat melewati dengan mudah. Di Eskalator ada rekan kerjanya yang
menyapanya dan menanyakan tidakan dokter Heru bagaimana. Mas Dimas sedikit
berbagi atas proses operasi yang dilakukan lebih dari tiga jam yang baru saja
dilalui. Cerita Mas Dimas itu juga telah memotivasi rekan kerjanya untuk juga
akan mengambil tindakan yang sama dengan Mas Dimas.
Kami segera
menuju Farmasi. Aku yang memang tidak tahu seluk beluk rumah sakit ini
sebenarnya mengalami kebingungan. Ruang Farmasi tepat berada di depan
escalator. Atas petunjuk Mas Dimas aku segera meletakan kertas dari ruang
operasi ke kotak yang ada di meja farmasi. Seorang perempuan yang sedang
bertugas sedang melayani pasien lainnya. Mas Dimas sempat menyapanya. Aku
langsung saja meletakan kerja tersebut di tempat yang kosong.
Aku meminta Mas
Dimas untuk mencari tempat duduk. Sedangkan aku memilih berdiri tidak jauh dari
escalator. Ruang tunggu farmasi cukup penuh, sehingga tidak banyak tempat duduk
yang kosong.
Setelah
beberapa saat, ada tempat duduk yang kosong. Aku segera menghampirinya. Tempat
duduk tersebut tidak jauh dari Mas Dimas, sehingga aku masih tetap bisa
mengawasinya.
Belum lama
duduk, panggilan mengambil obat atas nama Mas Dimas terdengar. Padahal aku
sedang berfikir bagaimana mengetahui kalau obatnya selesai, sedangkan dilayar
hanya tertera nomor-nomor panggilan. Aku sempat menyesal kenapa tidak menghafal
nomor yang ada dikertas tadi sebelum diserahkan ke Farmasi. Namun kekhawatiranku
tidak berarti. Nama Mas Dimas sudah dipanggil dan kami segera menuju ke meja.
Ada beberapa
penjelasan yang disampaikan oleh petugas, yaitu bagaimana harus meminum obat,
obatnya apa saja dan lain sebagainya “Obat tetesnya jangan digunakan dulu ya,
dipakai besuk kalau perbannya sudah dibuka” demikian pesan petugas.
Setelah segala
urusan di meja farmasi selesai kami segera meninggalkan ruangan tersebut untuk
segera pulang. Kami sempat diskusi bagaimana mau pulang, apakah jalan kak,i
naik ojek atau naik mobil. Aku sempat menyarankan Mas Dimas untuk naik ojek
sedangkan aku akan jalan kaki saja. Namun Mas Dimas ingin kita berdua sama-sama
naik mobil saja. Maka dia akan segera memesan mobil.
Sebelum kita
memesan mobil, di lorong rumah sakit ada beberapa rekan Mas Dimas yang menyapa.
Ada beberapa orang yang kaget atas apa yang telah terjadi dengan Mas Dimas. Aku
sempat membantu untuk memfoto Mas Dimas dengan dua orang rekannya yang aku
ketahui mereka sama-sama dari lantai 7.
Salah satu
rekan Mas Dimas yang kita temui di Lorong ternyata Kepala Ruangan, Namanya Ibu
Kristin. Ia sempat bertanya dimana kami tinggal. Aku menyampaikan bahwa kami
tinggal di Jalan SMEA 6, tidak jauh dari rumah sakit. Bu Kristin tidak
mengijinkan kami langsung pulang. Ia mengajak kami untuk makan terlebih dahulu
di seberang rumah sakit.
Sebagai kepala
ruangan tempat Mas Dimas bekerja, Bu Kristin sangat perhatian. Dia yang
mengandeng Mas Dimas dari mulai keluar rumah sakit, menyeberang jalan raya
hingga sampai rumah makan. Bu Kristin pula yang memesankan makan siang untuk
kita bertiga. Kebetulan pesanan kita sama yaitu soto mie.
Sambil makan
mereka mendiskusikan kondisi lantai 7 hari itu. Selain Mas Dimas, ada satu
pekerja lagi yang juga sedang cuti. Kalau Mas Dimas mendapatkan cuti 3 hari
rekan kerjanya hanya satu hari. Aku baru tahu kalau hari itu akan ada
pemeriksaan sebanyak 80 orang di lantai 7. Tapi aku tidak tahu persis.
Sebenarnya Mas Dimas sering cerita terkait dinamika yang terjadi di lantai 7,
namun aku sendiri tidak terlalu memperhatikan.
Selama kami
menyantap makan siang, banyak rekan-rekan Mas Dimas yang menyapa dan menanyakan
apa yang sedang terjadi. Aku hanya memperhatikan saja.
Bu Kristin
benar-benar memperhatikan Mas Dimas. Ia meminta Mas Dimas untuk naik ojek
pengkolan saja dari pada ojek online, mengingat tempat tinggal kami tidak
terlalu jauh. Bu Kristin sempat memberi uang tunai kepada Mas Dimas untuk
membayar ojek pengkolan. Tidak hanya itu, dia juga turut mencarikan ojek
pengkolan dan memastikan Mas Dimas pulang dengan selamat.
Setelah Mas
Dimas naik ojek, akupun segera bergegas untuk pulang. Tak lupa aku ucapkan
banyak terima kasih atas traktiran Bu Kristin hari itu dan perhatiannya pada
Mas Dimas. Kami berpisah , aku menuju kos dan Bu Kristin kembali ke rumah
sakit.
Aku bergegas
menuju ke kos, dibawah terik matahari Jakarta tengah hari.
Sesampai di di
kos, Mas Dimas telah duduk di kursi. Aku memastikan kembali apakah Mas Dimas
bisa naik tangga menuju ke lantai 2 atau tidak. Mengingat tangga kos kita agak
sulit dilewati, ditambah pengelihatan Mas Dimas yang masih terganggu karena
tidak boleh menunduk serta masih ada efek dari operasi.
Namun teryata
ia tidak membutuhkan bantuanku. Dia dapat melewati tangga dengan cukup baik
hingga depan kamarnya. Sesampai depan kamarnya aku langsung menyuruhnya untuk
istirahat dengan terlebih dahulu minum obatnya. Aku harus memastikan obatnya
diminum, karena hari ini akulan yang dipercaya oleh pihak rumah sakit untuk
mendampinginya. Akulah pendamping operasi hari ini.
Jakarta, 4
November 2026