Kamis, 05 November 2026

Kontrol

Salah satu proses yang harus dijalani setelah melakukan tindakan operasi adalah kontrol. Proses tersebut dilakukan dalam rangka memastikan apakah tindakah yang telah dilakukan ada efek samping atau tidak. Selain juga memastikan perkembangan yang sudah dilakukan atas tindakan yang sudah dilakukan.

Sebagai orang yang sudah berkomitmen menjadi pendamping pasien ketika proses operasi, akupun harus berkomitmen untuk proses kontrolnya. Maka paska operasi selesai dan ketika mengurus surat kontrol aku menyampaikan kepada Mas Dimas, jika diperlukan aku masih siap untuk mendampinginya kontrol.

Sejenak Mas Dimas nampak ragu, apakah ia akan berangkat kontrol sendiri atau tetap butuh pendampingan. Aku melihat keraguannya itu.

Wajar saja, karena sebagai orang yang bekerja di Rumah Sakit dia paham bagaimana mekanisme kontrol, maka dari itu bisa jadi ia tidak membutuhkan seorang pendamping. Tetapi mengingat aturan klinik mata yang ketat dimana pasien harus didampingi oleh pendamping, tanpa ada pendamping petugas kesehatan tidak akan mengambil tindakan, maka kehadiran pendamping menjadi sangat penting.

“Nanti aku info lagi ya” demikian Mas Dimas menjawab pertanyaanku.

Sekali lagi aku menyampaikan bahwa esok hari aku belum ada agenda, sehingga masih bisa untuk mendampinginya kontrol.

Keesokan harinya, ketika aku buka handphone, ada pesan dari Mas Dimas yang masuk. Pesannya dikirim jam 05.00, sementara aku baru membacanya jam 5.45. Mungkin Mas Dimas berfikir aku masih tidur, atau mungkin juga berfikir aku tidak bisa mengantarnya untuk kontrol. Namun untungnya dia masih menunggu jawabanku, tidak seperti sebelumnya yang langsung meminta tolong pada Dio.

“Assalamualaikum, Mos Joko….Pagi ini bisa temenin kontrol ke RS, Mas? Kalo bisa kita berangkat jam 06.30 aja ya Mas Jok…” demikian pesannya.

Aku segera menjawab pesan tersebut bahwa aku bersedia mengantarnya untuk ke Rumah Sakit dan sepakat untuk berangkat jam 06.30.

Aku pun segera bersiap. Aku tidak mau seperti kemarin yang persiapanku sangat terburu-buru. Aku segera menuju kamar mandi untuk membasuh tubuh agar lebih segar. Tak lupa setelah mandi aku membuat teh panas untuk sekedar menghagatkan dan mengisi perut.

Berkaca dari hari sebelumnya, aku juga memasukan teh panas kedalam tumbler sebegai bekal.

Jam 06.30 kami bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit. Aku memastikan semua surat untuk keperluan kontrol tidak tertinggal. Aku pun mengusulkan agar ke Rumah Sakit berjalan kaki saja karena lokasinya tidak jauh. Namun sebelumnya aku memastikan terlebih dahulu apakah kalau berjalan kaki akan baik-baik saja untuk Mas Dimas, mengingat dia masih belum diperbolehkan banyak bergerak paska operasi kemarin. Mas Dimas pun menyetujui usulkan. Kami menuju Rumah Sakit berjalan kaki.

Sepanjang jalan kami ngobrol banyak hal, tentang kondisinya setelah operasi dan lain sebagainya. Hingga tak terasa kami sudah sampai jalan raya dan tinggal menyeberang.

Sesampainya di Rumah Sakit nampak sudah cukup ramai. Banyak pasien dan keluarga pasien yang duduk berjajar di ruang tunggu dan loby rumah sakit. Sebagai salah satu pekerja Rumah Sakit, Mas Dimas sudah tahu apa yang harus dilakukan, meja mana yang harus dituju. Bahkan sebagai pekerja, dia juga bisa masuk pada ruang-ruang yang terlarang bagi pasien maupun keluarganya.

Berbekal privilege yang dimilikinya, proses pendaftaran dilantai satu berjalan dengan cukup cepat. Aku hanya menunggu di kursi sambil terus mengawasinya.

Setelah segala urusan dilantai satu selesai, kami segera naik ke lantai dua dengan menggunakan escalator yang ada. Sesampai di lantai dua nampak sudah ada beberapa orang yang menunggu. Sebagian besar memang menunggu di depan klinik mata, sedangkan klinik-klinik lainnya tidak sebanyak di klinik mata.

Mas Dimas langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Hal ini ia lakukan karena memang ia memiliki privilege, dibadingkan pasien lain. Tidak lama dia keluar lagi dari ruang pemeriksaan. Ia menyampaikan belum ada orang di dalam ruangan.

Sambil menunggu jam pelayanan buka, Mas Dimas mengajaku untuk ke kantin. Aku baru tahu kalau di lantai dua ada kantin yang menyediakan aneka macam makanan. Tahu gitu kemarin sambil menunggu Mas Dimas operasi aku beli makanan di kantin, pikirku.

Kami pun segera memilih menu sarapan. Aku memilih bubur manado, menu yang jarang sekali aku temui. Sementara Mas Dimas memilih menu nasi ikan cakalang. Mas Dimas sempat bertanya apakah aku punya minum atau tidak. Aku menjawab bahwa aku sudah membawa minum, sehingga hanya dia saja yang belum punya minum.

Kami segera menuju ruang tunggu kembali. Kami menikmati sarapan di ruang tunggu yang semakin ramai.

Tidak begitu lama, petugas sudah mulai berdatangan. Mereka langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Namun karena jam pelayanan belum mulai mereka masih bersiap diri.

Tepat jam 07.30 pelayanan dimulai. Satu demi satu pasien dipanggil. Sebagai seseorang yang memiliki privilege Mas Dimas mendapatkan jadwal pertama. Sebagai pendamping aku memutuskan untuk tetap berada di ruang tunggu. Akhirnya Mas Dimas masuk ruang pemeriksaan sendiri.

Tidak lama kemudian dari pengeras suara terdengar panggilan “keluarga Tuan Dimas harap masuk ke ruangan” aku segera bergegas masuk ke ruang perawatan. Di dalam ruangan sudah cukup banyak orang. Aku segera diarahkan dimana Mas Dimas sedang mendapatkan pelayanan.

Aku segera mendekat dan memperhatikan. Tidak lama kemudian perawat yang sedang memeriksa menyuruh aku untuk memperhatikan apa yang harus dilakukan, misalnya bagaimana harus mengelap mata yang habis dioperasi dengan kassa yang sudah dibasahi oleh air hangat. Perawat juga menyampaikan sampai dua minggu kedepan bagian mata dan kepala tidak boleh terkena air. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengelapnya dengan perban. Perawat juga melarang tindakan itu dilakukan dengan menggunakan tissue basah, karena menurutnya tissue basah sudah mengandung alcohol sehingga akan mempengaruhi kesehatan mata.

Karena bagian kepala tidak boleh terkena air, maka perawat menyarankan untuk wudhu sementara dapat tayamun . Perawat juga kembali mengingatkan bahwa tidak boleh terlalu menunduk, sehingga solat juga harus dilakukan dengan posisi duduk. Sementara untuk menghindari terik matahari, ketika berada di luar ruangan diwajibkan untuk memakai kacamata hitam.

Setelah proses selesai Mas Dimas diminta untuk menunggu Dokter untuk pemeriksaan selanjutnya. Sementara aku berfikir tugasku selesai, aku segera meninggalkan ruang pemeriksaan. Hal tersebut aku lakukan karena menurutku ruang pemeriksaan sudah terlalu banyak orang.

Aku segera mencari tempat duduk yang masih kosong. Agak susah memang mencari tempat duduk yang kosong karena semakin siang semakin banyak pasien dan keluarganya yang datang. Di bagian paling depan di dekat meja pendaftaran aku memilih salah satu kursi yang masih kosong.

Aku memperhatikan lalu lalang pasien dan keluarganya. Usia mereka beragam. Ada pasien yang masih berusia anak-anak, mungkin belum mencapai 10 tahun tetapi sudah menggunakan kacamata cukup tebal. Ada beberapa pasien yang sudah lansia. Ada dari mereka yang menggunakan kursi roda. Ada yang datang sendiri atau datang dengan dengan pendampingnya, entah keluarga atau anaknya. Ada pula anak-anak yang ikut ibunya karena mungkin kalau ditinggal tidak ada yang menjaga di rumahnya.

Perhatianku tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Usianya mungkin sudah ditas 60 tahun. Dia nampak sendiri. Aku berfikir dimanakah keluarganya? Dimanakah anak-anaknya? Kenapa ia harus memeriksakan matanya sendiri tanpa didampingi oleh siapapun?

Tak lama perhatianku beralih pada seorang perempuan yang menggunakan kursi roda yang sedang berusaha masuk ke ruang pemeriksaan. Pendampingnya mengalami kesulitan untuk mendorong kursi roda masuk, sehingga sempat meminta perempuan tersebut turun dari kursi roda. Di tengah persiapan turun dari kursi roda, petugas Kesehatan keluar dari ruangan dan membantunya untuk dapat masuk ke ruang pemeriksaan dengan menggunakan kursi roda.

Perhatianku juga tertutu pada seorang laki-laki lanjut usia, mungkin usianya sudah lebih 70 tahun. Ia datang sendiri tanpa ditemani oleh kerabatnya.Ia sedang mencoba bernegosiasi dengan petugas yang ada di meja pendaftaran agar di perbolehkan untuk mendapatkan pelayanan cek mata tanpa rujukan.

Namun petugas menolaknya, karena sesuai aturan BPJS semua yang ingin mendapatkan pelayanan harus membawa rujukan. Laki-laki tersebut sebenarnya sudah membawa rujukan, namun rujukannya untuk urologi. Petugas sempat meminta pasien kembali ke urologi dan menjalankan prosesnya terlebih dahulu. Ia menjelaskan bahwa pelayanan baru bisa dilakukan dua minggu setelahnya.

Namun laki-laki tersebut terus mengharapkan mendapatkan pelayanan hari itu, karena matanya sudah sangat menganggu. Petugas sempat menyarankan untuk ke puskesmas atau klinik yang berbayar. Laki-laki tersebut masih terus bernegosiasi. Aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya, karena tidak lama, ketika aku tengah asyik main handphone, kembali ada panggilan dari pengeras suara “keluarga tuan Dimas harap masuk ruang pemeriksaan” aku segera bergegas ke ruang pemeriksaan, dan diarahkan ke ruang Dokter dimana Mas Dimas sedang mendapatkan pelayanan.

Aku turut mendengarkan apa yang disampaikan oleh dokter yang menurutku hampir sama denga napa yang sudah disampaikan oleh perawat. Dokter juga menyampaikan bahwa ia tidak akan memberikan obat, tetapi obat yang sudah diberikan sebelumnya harap diminum sampai habis. Demikian pula dengan obat tetes mata.

Selain itu dokter juga menjadwalkan untuk kontrol selanjutnya. Jadwal kontrol selanjutnya dua minggu lagi. Artinya selama dua minggu kedepan bagian kepala Mas Dimas tidak boleh terkena air.

Setelah selesai dengan dokter, kami segera menuju ke meja pendaftaran klinik mata. Mas Dimas memberikan selembar kertas yang diberikan untuk dokter dan meminta untuk dijadwalkan pemeriksaan selanjutnya yaitu dua minggu kemudian.

Setelah urusan di lantai dua selesai, kami segera menuju ke lantai satu untuk segera pulang. Namun sesampainya di lantai satu, Mas Dimas mengajak untuk naik terlebih dahulu ke lantai 7, dimana di lantai 7 inilah ruang kerja Mas Dimas.

Lantai 7, tempat Mas Dimas bekerja susasanya tidak terlalu ramai. Hal ini karena di lantai ini khusus untuk pelayanan eksklusif. Di lantai ini ada ruang tunggu yang sangat mewah, ada sofa yang nyaman untuk duduk jika dibandingkan kursi di ruang tunggu lantai satu.

Aku menunggu beberapa saat. Mas Dimas menyelesaikan segala urusannya di ruang kerjanya. Setelah segala urusan selesai kami segera menuju ke lantai satu dan segera kembali ke rumah. Kami memutuskan untuk berjalan kaki. Sebelumnya Mas Dimas menyarankan untuk naik mobil saja, tetapi karena letak rumah sakit dan rumah tidak terlalu jauh, aku mengusulkan tetap berjalan kaki.

Sesampai di rumah aku meminta Mas Dimas untuk beristirahat kembali dan benar-benar memanfaatkan waktu cutinya. Sementara aku kembali beraktifitas seperti biasa dengan pekerjaan-pekerjaan yang sudah menunggu untuk segera diselesaikan.

 

Jakarta, 6 November 2026

Rabu, 04 November 2026

Pendamping Operasi

Aku masih malas-malasan diatas tempat tidur sambil mainan handphone ketika panggilan dari Mas Dimas masuk. “ya halo mas…” aku langsung menjawab panggilan itu. 

Padahal aku tipe orang yang males menjawab panggilan dari siapapun. Tetapi aku tahu, pagi ini Mas Dimas ada rencana melakukan operasi mata. Rencana itu ia sampaikan semalam. Ia sempat meminta aku untuk menemaninya. Menurutnya operasi kali ini harus ada yang bersedia mendampingi. Paling tidak buat jaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika dia menyampaikan hal itu, aku langsung menyanggupinya. Mengingat hari ini aku  belum ada agenda selain mengikuti seminar melalui zoom. Kegiatan itupun baru akan mulai jam satu, sehingga pagi hari aku masih bisa menemani Mas Dimas operasi.

Namun Mas Dimas membatalkannya. Hal itu dia lakukan karena sebelum meminta aku menemaninya, ia sudah meminta Dio, anak kos di kamar nomor satu untuk menemaninya. Dio pun menyanggupinya.

Sebelum ke Dio, Mas Dimas memang mengirim pesan, tapi karena aku sedang asyik membaca buku, aku baru menyadarinya satu jam setelahnya. Karena aku tak juga membalas pesannya, Mas Dimas mengira aku sudah tertidur, makanya dia langsung menuju kamar Dio untuk meminta menemaninya.

“Mas Joko lagi sibu ngak?” Mas Dimas langsung menjawab telponku dari seberang sana

“Ngak sih mas…knapa?” jawabku

Mas Dimas langsung memberi penjelasan kalau ia mendapatkan jadwal operasi pertama. Pihak Rumah Sakit tidak akan melaksanakan operasi sebelum pendampingnya ada. Dio yang semalam sudah menyanggupi untuk mendampinginya tidak bisa di kontak.

“Loh dia lagi telpon tuh mas” aku memberi pejelasan pada Mas Dimas terkait dengan Dio yang tidak juga menjawab panggilan dari Mas Dimas.

Aku buru-buru keluar kamar menuju kamar Dio yang baru saja mengakhiri panggilan telponnya. Aku langsung bertanya apakah dia jadi mendampingi Mas Dimas di Rumah Sakit atau tidak, karena Mas Dimas beberapa kali menelpon belum di jawab. Aku langsung memberikan telpon yang masih menyambung dengan Mas Dimas ke Dio.

“Halo Pak….jadi pak” Demikian kata Dio menjawab pertanyaan Mas Dimas.

“Tapi Pak pagi ini saya harus ambil foto, sepertinya saya tidak bisa” Dio pun langsung memberi penjelasan lanjutan ke Mas Dimas.

Ternyata telpon yang barusan diterima oleh Dio adalah telpon panggilan untuk menyerahkan foto. Dio sendiri berada di Jakarta sedang proses pendaftaran menjadi anggota TNI, maka dia dapat menerima panggilaan sewaktu-waktu.

Semalam ketika Mas Dimas meminta kesediaannya untuk menemani di meja operasi pagi ini, dia belum memiliki agenda apapun. Dia baru dikontak pagi ini untuk menyerahkan foto sebagai pelengkap dari berkas yang sudah dikumpulkannya.

Karena Dio tidak dapat menemani Mas Dimas, sementara kehadiran pendamping ini sangat penting dalam proses operasi, karena tanpa ada pendamping pihak rumah sakit tidak akan melakukan tindakan, aku pun langsung menjawab bahwa aku bisa mendampinginya.

“Aku bisa mas, tetapi aku mandi dan siap-siap dulu ya” demikian aku menjawab Mas Dimas yang ada di seberang sana setelah mendapatkan kepastian dari Dio kalau dia tidak dapat mendampingi mas Dimas pagi ini.

“Mas Joko bisa cepat ngak? Karena butuh cepat” mas Dimas memastikan lagi apakah proses siap-siap untuk menuju Rumah Sakit bisa cepat atau tidak.

Aku pun menjawab akan aku usahakan.

Setelah telpon mas Dimas ditutup, aku segera menuju ke kamar mandi untuk segera bersiap. Tak butuh waktu lama, karena memang aku tipe orang yang kalau mandi pasti akan cepat. Aku langsung bersiap-siap untuk berangkat.

Aku mengecek kembali handphoneku yang ternyata ada pesan dari Mas Dimas “Mas Joko sudah ada dimana” demikian pesan di hpku.

Sambil berjalan aku menjawab pesan Mas Dimas “OTW ya mas” demikian jawabku singkat.

Aku berjalan cepat, setengah berlari. Untung saja letak Rumah Sakitnya tidak jauh. Sekitar 500 meter dari tempat kita tinggal. Namun dalam keadaan buru-buru 500 meter terasa agak jauh.

Sesampainya di Rumah Sakit aku langsung bertanya pada satpam keberadaan klinik mata. Sebelumnya Mas Dimas sudah menyampaikan kalau Klinik Mata ada dilantai 2. Tapi bagi aku yang tidak pernah masuk rumah sakit tentu saja mengalami kebingungan. Ditambah Rumah Sakit pada pagi itu penuh dengan Pasien.

Ketika ketemu Satpam di lantai satu aku langsung bertanya kalau mau ke klinik mata sebelah mana. Satpam memerintahkanku untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku memberi penjelasan bahwa aku hanya akan menunggu saudara yang akan melakukan operasi.

Aku segera bergegas menuju lantai dua menggunakan escalator yang ditunjukan oleh satpam tadi. Sesampai di lantai dua aku kembali mengalami kebingungan. Aku coba celingak celinguk, tidak nampak batang hidung Mas Dimas yang aku kenal. Sementara diarea ruang tunggu klinik mata cukup banyak orang mengantri.

Lantai dua ini bukan hanya klinik mata saja, ternyata ada 16 klinik lainnya seperti klinik jantung, klinik paru-paru, klinik kulit dan kelamin, klinik kosmetik, klinik gigi dan lain sebagainya. Itu mengapa lantai dua nampak penuh dengan pasien dan juga yang mengantarkannya.

Aku segera menelpon Mas Dimas dan menginformasikan bahwa aku sudah ada di lantai dua. Mas Dimas segera keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung mendapati aku yang sedang mencarinya.

Mas Dimas langsung mengajak aku untuk masuk ke ruang pemeriksaan dan menginformasikan ke petugas bahwa yang mendampinginya sudah ada.

Sebagai seseorang yang akan mendampinginya dan bertanggung jawab selama Mas Dimas menjalani operasi, petugas memberi beberapa pengarahan kepadaku, misalnya dia memastikan bahwa aku akan mendampinginya, memastikan bahwa aku akan mengambilkan obat yang diresepkan dokter setelah operasi selesai dan memastikan Mas Dimas meminumnya, memastikan aku akan ambil jadwal mas Dimas untuk kontrol besuk pagi dan lain sebagainya. Aku mengikuti arahan dari petugas.

Aku sendiri sebenarnya agak bingung. Karena jujur saja aku jarang masuk rumah sakit. Dan aku pikir aku hanya akan mendampingi Mas Dimas begitu saja. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang menjadi tugasku sebagai pendamping pasien yang akan dioperasi.

Setelah semua penjelasan selesai kami berdua langsung pamit untuk menuju lantai tiga, lantai dimana tindakan operasi akan dilakukan.

Sebagai salah satu pekerja di Rumah Sakit, banyak orang yang mengenal Mas Dimas. Sepanjang jalan menuju lantai tiga cukup banyak yang menyapanya, menanyakan apa yang akan dilakukan. Mas Dimas sempat memberi penjelasan terhadap beberapa orang yang ia temui dijalan atas tindakan yang akan segera dilakukannya.

Demikian pula ketika kami sampai di lantai tiga. Satpam yang bertugas dilantai tiga ternyata juga sudah menunggu. Sebelumnya dia tidak tahu kalau Dimas yang akan menjalani operasi mata pagi ini adalah Dimas yang selama ini bekerja di lantai 7.

Setelah basa basi sebentar Mas Dimas diantar ke ruangan untuk ganti.

Aku sendiri sebagai pendamping memilih untuk berdiri di lorong dekat dengan lisf pasien dan pengunjung. Di lorong itu ada beberapa kursi roda yang di pakir. Kursi roda yang dipakai oleh pasien yang sedang menunggu tindakan operasi.

Belum begitu lama, tiba-tiba Mas Dimas keluar dari ruang ganti. Ia meminta aku untuk kembali ke lantai dua karena dokter penjaga membutuhkan dokumen SEP. Aku sendiri tidak tahu apa itu SEP. Aku sempat menulis di handphone, takut aku lupa.

Sesampai di lantai dua, di ruang pemeriksaan, aku langsung menyampaikan kalau Mas Dimas membutuhkan dokumen SEP kepada petugas yang sedang berjaga. Aku menyampaikan bahwa SEP tersebut masih ada di Bu Wulan. Petugas yang aku sendiri tidak tahu namanya, setelah selesai menangani pasien langsung mencari Bu Wulan untuk menanyakan tentang SEP tersebut.

Setelah beberapa saat, petugas itu keluar dan menyampaikan bahwa SEP sudah diserahkan ke Mas Dimas.

Aku segera kembali ke lantai tiga melewati tangga darurat. Sesampai di lantai tiga aku tidak langsung masuk ke ruangan dimana Mas Dimas sedang ganti baju, karena menurutku ruangan itu hanya diperuntukan bagi petugas dan pasien.

Aku memilih tetap berdiri di lorong dekat dengan lift sambil memainkan handphone. Beberapa pasien datang silih berganti. Kursi roda yang ketika aku datang pertama tadi ada dua, ketika aku datang kembali sudah tidak ada. Namun beberapa saat datang lagi kursi roda yang digunakan oleh pasien yang sedang menunggu proses operasi.

Setelah beberapa saat, satpam yang ada di lantai tiga menyuruhku untuk masuk ke ruang tempat Mas Dimas menganti pakaian guna mengambil baju gantinya. Sesampai di ruangan, Mas Dimas sudah duduk di atas kursi roda dan sudah berganti dengan pakaian operasi. Ia langsung menyerahkan pakaiannya dan menyampaikan kalau dokumen SEP sudah ada di kantongnya dan sudah diserahkan pada petugas..

Aku segera mengambil pakaiannya dan sepatunya. Satpam mengantarkan aku ke ruang tunggu. Ia menyuruh aku untuk menunggu sampai nanti dipanggil kembali.

Aku membawa barang-barang mas Dimas, baju, sepatu dan tas kecil tempat dia menaruh dokumen, minuman dan Hp ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu yang letaknya tepat di depan pintu masuk anesty sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu entah saudara atau tetangga yang juga sedang menjalani operasi. Aku segera mencari tempat duduk yang kosong. Tidak banyak tempat duduk yang kosong. Aku memilih seadanya. Aku memilih tempat duduk yang agak berada di pojok.

Setelah merasa mendapat posisi yang nyaman aku segera mengeluarkan handphoneku. Jam di handphoneku menjukan waktu belum ada jam 9 pagi. Semalam Mas Dimas menyampaikan kalau operasinya akan dilakukan jam 10 dan paling tidak memakan waktu satu jam. Tapi jam setengah sembilan iya sudah berganti baju. Aku berfikir mungkin operasinya dimajukan. Kalau operasi akan memakan waktu satu jam artinya sebelum jam 10 sudah selesai.

Aku mengeluarkan handphoneku. Aku membaca beberapa artikel di instagram. Setelah bosan dengan scrolling Instagram aku memainkan beberapa permainan yang ada di handphone.

Sesekali aku memperhatikan keluarga-keluarga pasien yang ada di ruang tunggu. Ada muka-muka lelah, ada muka pasrah dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka.

Orang-orang yang berada di ruang tunggu datang silih berganti. Beberapa masuk ke ruang tunggu karena harus menjalani anesty. Ada juga yang memang sedang menunggu Keluarganya yang sedang menjalani operasi. Ternyata ada berbagai macam operasi yang sedang dilakukan. Samar-samar aku mendengar kalau ia sedang menunggu saudaranya yang sedang operasi ginjal. Ada juga yang sedang gelisah karena sudah satu jam lebih masuk ruang operasi belum ada tindakan.

Banyak cerita silih berganti yang aku dengar tetapi hanya samar-samar. Aku hanya focus dengan handphoneku dan berharap operasi Mas Dimas segera selesai.

Aku mulai gelisah ketika sudah mendekati jam 11 belum ada panggilan juga dari satpam. Aku baru tahu kalau pasien sudah selesai operasi, satpam akan memanggil keluarga pasien. “Keluarga Bapak Hartono” demikian suara satpam yang nyaring.

Panggilan demi panggilan silih berganti, tetapi panggilan keluarga Dimas belum juga terdengar. Ruang tunggu yang tadi ketika aku datang ramai, sudah mulai sepi dan ramai lagi.

Aku sempat terkecoh, aku pikir ada Satpam yang memanggilku. Aku sempat berdiri membawa semua barang-barang. Setelah beberapa saat aku menyadari bahwa Satpam itu tidak memanggilku. Dengan rasa malu, aku kembali duduk ke tempat duduk semula.

Tiba-tiba handphone Mas Dimas berbunyi. Tadi sebelum dia masuk ke ruang operasi, Mas Dimas menyampaikan kalau ada telpon diangkat saja. Aku langsung melihat handphone mas Dimas. Ternyata bunyi itu bukan karena ada panggilan masuk, tetapi alarm bahwa waktu azan dzuhur sudah tiba. Aku segera mematikan handphone itu. Aku kembali focus dengan handphonku lagi sambil tetap memasang telingga siapa tahu ada panggilan.

Aku sudah mulai gelisah, karena sudah hampir tiga jam, operasi Mas Dimas belum selesai. Aku sendiri tidak ada persiapan apapun untuk menunggu Mas Dimas. Aku belum sempat sarapan, belum sempat minum teh panas dan susu. Aku tidak membawa air putih. Tapi aku masih bersyukur aku sempat memasukan susu kotak yang aku beli beberapa minggu yang lalu.

Sebenarnya rasa lapar itu sudah ada dari tadi. Namun aku tidak kepikiran untuk pergi ke kantin untuk mencari makanan. Ada ketakutan ketika aku sedang tidak ada di tempat tiba-tiba ada panggilan “Keluarga Dimas”

Maka ketika rasa lapar muncul aku hanya meminum susuku. Sebenarnya hanya susu tidak cukup, aku butuh air putih. Apalagi ketika tiba-tiba tenggorokan gatal. Tapi apa boleh buat. Aku mencoba menghilangkannya dengan ludahku.

Setelah hampir jam setengah satu tiba-tiba ada panggilan “keluarga Dimas”. Aku langsung bergegas mengikuti satpam tersebut. Satpam mengantarkanku ke ruang tunggu lain yang letaknya di sebelah lorong tempat tadi pertama aku mengantar Mas Dimas. Di Lorong itu sudah ada beberapa keluarga pasien yang juga sedang menunggu keluarganya selesai operasi. Satpam memerintahkanku untuk duduk di pojok sambil menunggu panggilan.

Setelah kurang lebih 15 menit menunggu akhirnya aku dipanggil. Kembali aku menuju satu ruangan lain yang steril. Aku masuk dengan terlebih dahulu membuka sandalku. Di ruangan itu aku menunggu beberapa saat hingga kemunculan Mas Dimas keluarga dari ruang operasi. Mas Dimas duduk di kursi roda, dengan mata sebelah kanannya di perban warna putih.

Dokter memberi beberapa penjelasan yang harus dipatuhi. Ada beberapa pantangan yang harus dilakukan misalnya tidak diperbolehkan terlalu nunduk, mata tidak boleh kena air, kalau mandi hanya diperbolehkan dari leher ke bawah, obat harus segera diambil di farmasi, obat tetes tidak boleh digunakan sampai besuk waktu pemeriksaan lagi, memastikan ambil antrian untuk besuk pemeriksaan dan pembukaan perban, obat yang harus diminum dan lain sebagainya.

Apa yang disampaikan oleh perawat, sebenarnya sudah di ketik. Sebelum akhirnya dia meninggalkan kami dia memberikan ketikan itu “ini biar tidak lupa” demikian katanya.

Aku segera menyerahkan baju ganti Mas Dimas. Mas Dimas menganti baju operasi dengan baju biasa di pojok ruangan yang dipasang korden yang bisa dibuka tutup. Mas Dimas membutuhkan waktu beberapa lama untuk dapat ganti baju. Mungkin efek operasi atau mungkin saja obat biusnya masih bereaksi sehingga dia harus fokus.

Setelah semua selesai aku segera mengajaknya ke luar ruangan. Benar saja yang aku takutkan, Mas Dimas menabrak pintu kaca. Dia tidak melihat adanya pintu kaca. Hal tersebut terjadi karena mata kanan diperban, sedangkan dia sendiri tidak menggunakan kaca mata yang selama ini telah membantu untuk melihat.

Aku sendiri sebenarnya agak kaget ketika mengetahui bahwa minusnya sudah mencapai 18. Aku yang belum ada 3 udah merasa susah, bagaimana mencapai 18. Itu mengapa pintu kaca sebesar itu dia tidak melihatnya.

Aku membimbing Mas Dimas untuk duduk dikursi agar dia bisa memakai sepatunya. Setelah operasi memang Mas Dimas tidak boleh terlalu banyak menunduk atau tenggok kanan kiri, sehingga berjalanpun dia seperti robot. Memakai sepatu yang bisa dilakukan ketika menunduk, namun larangan menunduk membuat pekerjaan yang mudah pasti menjadi sulit.

Setelah berhasil memakai sepatu kita segera menuju ke lift karena harus kembali ke lantai dua untuk ambil jadwal kontrol esuk hari. Tadinya aku ingin mengajak Mas Dimas lewat tangga darurat, toh hanya satu lantai. Tapi tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan karena bahaya apalagi dia tidak boleh terlalu menunduk. Maka walau hanya turun satu lantai kita tetap menggunakan lift. Di depan lift banyak rekan-rekan mas Dimas yang  menyapanya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku membiarkannya sambil terus mendampingi.

Demikian juga setelah sampai di lantai dua, satpam yang berdiri dipojokan langsung menyapanya “jalannya jangan kayak robot gitu dong” godanya.

Aku sebenarnya ingin tertawa, tetapi kasihan juga. Akutidak tahu kalau itu terjadi pada diriku. Yang aku lakukan hanya memastikan Mas Dimas berjalan pada jalur yang tepat dan tidak menganggu lalu lalang pasien lainnya. Aku sempat menawarkan untuk mengandengnya, namun ia mengatakan masih bisa berjalan denga nyaman.

Aku segera menuju ke meja pendaftaran, depat pintu masuk klinik mata yang tadi pagi aku sudah masuk. Mas Dimas tidak mendekat. Aku pikir memang dia tidak ingin terlalu mendekat agar komunikasi dengan perawat aku yang melakukan. Tapi ternyata hal itu ia lakukan karena dia tidak tahu apakah poisisinya sudah mendekati meja atau belum. Maklum dia tidak menggunakan kacamatanya sehingga tidak dapat melihat dengan cukup jelas.

Sesampai di meja perawat, ia langsung menyerahkan kertas yang berisi jadwa kontrol besuk pagi jam 7.30. Aku langsung menerimanya dan memasukan ke dalam tas. Mas Dimas sempat basa basi sebentar dengan petugas yang belakangan aku ketahui namanya Mbak Nova.

Sebelum meninggalkan lantai dua, Mas Dimas masuk kembali ke ruang pemeriksaan untuk mengucapkan terima kasih. Beberapa rekan kerjanya yang ada di lantai dua menyuruhnya tetap menggunakan kaca mata. Mas Dimas mencoba memakai kacamatanya dan ternyata perban yang ada dimata kanannya tidak terlalu menganggu penggunaan kacamatanya. Maka akhirnya ia gunakan kaca matanya.

Setelah menggunakan kacamata, Mas Dimas kembali dapat melihat dengan jelas. Walau hanya dengan mata kiri. Namun jalannya masih seperti robot karena dia tidak berani untuk menunduk atau tenggok kanan dan kiri.

Awalnya ketika harus melewati escalator aku khawatir mas Dimas akan mengalami kesulitan. Namun ternyata dia dapat melewati dengan mudah. Di Eskalator ada rekan kerjanya yang menyapanya dan menanyakan tidakan dokter Heru bagaimana. Mas Dimas sedikit berbagi atas proses operasi yang dilakukan lebih dari tiga jam yang baru saja dilalui. Cerita Mas Dimas itu juga telah memotivasi rekan kerjanya untuk juga akan mengambil tindakan yang sama dengan Mas Dimas.

Kami segera menuju Farmasi. Aku yang memang tidak tahu seluk beluk rumah sakit ini sebenarnya mengalami kebingungan. Ruang Farmasi tepat berada di depan escalator. Atas petunjuk Mas Dimas aku segera meletakan kertas dari ruang operasi ke kotak yang ada di meja farmasi. Seorang perempuan yang sedang bertugas sedang melayani pasien lainnya. Mas Dimas sempat menyapanya. Aku langsung saja meletakan kerja tersebut di tempat yang kosong.

Aku meminta Mas Dimas untuk mencari tempat duduk. Sedangkan aku memilih berdiri tidak jauh dari escalator. Ruang tunggu farmasi cukup penuh, sehingga tidak banyak tempat duduk yang kosong.

Setelah beberapa saat, ada tempat duduk yang kosong. Aku segera menghampirinya. Tempat duduk tersebut tidak jauh dari Mas Dimas, sehingga aku masih tetap bisa mengawasinya.

Belum lama duduk, panggilan mengambil obat atas nama Mas Dimas terdengar. Padahal aku sedang berfikir bagaimana mengetahui kalau obatnya selesai, sedangkan dilayar hanya tertera nomor-nomor panggilan. Aku sempat menyesal kenapa tidak menghafal nomor yang ada dikertas tadi sebelum diserahkan ke Farmasi. Namun kekhawatiranku tidak berarti. Nama Mas Dimas sudah dipanggil dan kami segera menuju ke meja.

Ada beberapa penjelasan yang disampaikan oleh petugas, yaitu bagaimana harus meminum obat, obatnya apa saja dan lain sebagainya “Obat tetesnya jangan digunakan dulu ya, dipakai besuk kalau perbannya sudah dibuka” demikian pesan petugas.

Setelah segala urusan di meja farmasi selesai kami segera meninggalkan ruangan tersebut untuk segera pulang. Kami sempat diskusi bagaimana mau pulang, apakah jalan kak,i naik ojek atau naik mobil. Aku sempat menyarankan Mas Dimas untuk naik ojek sedangkan aku akan jalan kaki saja. Namun Mas Dimas ingin kita berdua sama-sama naik mobil saja. Maka dia akan segera memesan mobil.

Sebelum kita memesan mobil, di lorong rumah sakit ada beberapa rekan Mas Dimas yang menyapa. Ada beberapa orang yang kaget atas apa yang telah terjadi dengan Mas Dimas. Aku sempat membantu untuk memfoto Mas Dimas dengan dua orang rekannya yang aku ketahui mereka sama-sama dari lantai 7.

Salah satu rekan Mas Dimas yang kita temui di Lorong ternyata Kepala Ruangan, Namanya Ibu Kristin. Ia sempat bertanya dimana kami tinggal. Aku menyampaikan bahwa kami tinggal di Jalan SMEA 6, tidak jauh dari rumah sakit. Bu Kristin tidak mengijinkan kami langsung pulang. Ia mengajak kami untuk makan terlebih dahulu di seberang rumah sakit.

Sebagai kepala ruangan tempat Mas Dimas bekerja, Bu Kristin sangat perhatian. Dia yang mengandeng Mas Dimas dari mulai keluar rumah sakit, menyeberang jalan raya hingga sampai rumah makan. Bu Kristin pula yang memesankan makan siang untuk kita bertiga. Kebetulan pesanan kita sama yaitu soto mie.

Sambil makan mereka mendiskusikan kondisi lantai 7 hari itu. Selain Mas Dimas, ada satu pekerja lagi yang juga sedang cuti. Kalau Mas Dimas mendapatkan cuti 3 hari rekan kerjanya hanya satu hari. Aku baru tahu kalau hari itu akan ada pemeriksaan sebanyak 80 orang di lantai 7. Tapi aku tidak tahu persis. Sebenarnya Mas Dimas sering cerita terkait dinamika yang terjadi di lantai 7, namun aku sendiri tidak terlalu memperhatikan.

Selama kami menyantap makan siang, banyak rekan-rekan Mas Dimas yang menyapa dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Aku hanya memperhatikan saja.

Bu Kristin benar-benar memperhatikan Mas Dimas. Ia meminta Mas Dimas untuk naik ojek pengkolan saja dari pada ojek online, mengingat tempat tinggal kami tidak terlalu jauh. Bu Kristin sempat memberi uang tunai kepada Mas Dimas untuk membayar ojek pengkolan. Tidak hanya itu, dia juga turut mencarikan ojek pengkolan dan memastikan Mas Dimas pulang dengan selamat.

Setelah Mas Dimas naik ojek, akupun segera bergegas untuk pulang. Tak lupa aku ucapkan banyak terima kasih atas traktiran Bu Kristin hari itu dan perhatiannya pada Mas Dimas. Kami berpisah , aku menuju kos dan Bu Kristin kembali ke rumah sakit.

Aku bergegas menuju ke kos, dibawah terik matahari Jakarta tengah hari.

Sesampai di di kos, Mas Dimas telah duduk di kursi. Aku memastikan kembali apakah Mas Dimas bisa naik tangga menuju ke lantai 2 atau tidak. Mengingat tangga kos kita agak sulit dilewati, ditambah pengelihatan Mas Dimas yang masih terganggu karena tidak boleh menunduk serta masih ada efek dari operasi.

Namun teryata ia tidak membutuhkan bantuanku. Dia dapat melewati tangga dengan cukup baik hingga depan kamarnya. Sesampai depan kamarnya aku langsung menyuruhnya untuk istirahat dengan terlebih dahulu minum obatnya. Aku harus memastikan obatnya diminum, karena hari ini akulan yang dipercaya oleh pihak rumah sakit untuk mendampinginya. Akulah pendamping operasi hari ini.

 

Jakarta, 4 November 2026

Sebulan Setelah Menjadi Pengangguran

Tak terasa hari ini sebulan sudah aku berhenti bekerja. Itu artinya sudah sebulan aku tidak lagi menjadi bagian dari kantor yang sudah hampir 17 tahun menjadi tempatku mengabdi. Aku menggunakan kata “mengabdi” karena memang ketika bergabung bukan hanya uang yang aku cari, tetapi keluarga, pengalaman dan pengabdian.

Selama hampir 17 tahun tentu banyak sekali pengalaman yang aku peroleh. Aku yang awalnya tidak banyak tahu apa-apa dan tidak memiliki pengalaman dalam melakukan pengorganisasian masyarakat, akhirnya aku mampu melakukannya. Berada di masyarakat menjadikan aku mendapatkan pengalaman dan kaya akan ilmu, karena menurutku masyarakatlah sumber ilmu sejati.

Ketika mengambil keputusan untuk berhenti bekerja memang sangat berat. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah keputusan itu aku ambil. Tetapi nyatanya aku tetap mengambilnya. Tentu dengan banyak pertimbangan. Ada rasa bimbang, takut dan lain sebagainya. Semua campur aduk.

Keinginan untuk mengundurkan diri sebenarnya sudah cukup lama. Bahkan aku sudah beberapa kali mengungkapkannya. Satu hal yang paling aku ingat, tahun 2019 aku pernah mengirimkan surat pengunduran diriku. Tapi surat itu tidak pernah ditanggapi.

Akhir tahun 2022 aku juga bersiap untuk mengundurkan diri. Setelah peristiwa “pembantaian” diacara refleksi tahunan program, hatiku hancur. Aku sempat menanggis sendirian di kamarku. Saat itu aku bertekad untuk mengundurukan diri.

Aku mulai menyiapkan diri untuk tidak lagi bekerja. Aku mulai merintis untuk memiliki usaha. Namun nyatanya semua berlalu begitu saja. Aku sempat kembali ke Jakarta. Mencoba menata hidup setelah peristiwa refleksi tahunan itu yang telah menghancurkan hatiku. Namun nyatanya aku kembali lagi ke lapangan.

Walau aku tidak jadi mengundurkan diri, namun aku tetap memulai usahaku. Adik iparku dan keponakanku yang mengelolanya. Karena kami tidak punya pengalaman, pengelolaannya tidak maksimal. Namun walau tidak maksimal, usaha ini berhasil bertahan selama tiga tahun dan akhirnya awal tahun ini kami memutuskan untuk menutup usaha.

Sebulan setelah tidak lagi berkantor mungkin menjadi sesuatu yang berat bagiku. Apalagi resign kali ini juga meninggalkan pengalaman yang sangat menyakitkan. Pengalaman yang tentu akan sangat membekas dalam pikiranku. Bahkan aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku bisa “sembuh” atas apa yang sudah terjadi.

Ada rasa bosan, ada rasa takut, ada rasa marah dan lain sebagainya yang bercampur dibenakku hari ini.

Aku sendiri tidak tahu apakah keputusan resign ditengah kondisi ekonomi negeri ini yang sedang tidak baik-baik saja sudah tepat? Tapi memutuskan untuk bertahanpun sepertinya aku tak sanggup. Sampai kapan aku akan bertahan? Sampai kapan aku akan menjalani hal-hal yang aku sendiri merasa tidak nyaman untuk melakukannya. Dan tentu saja paska “pengadilan” yang sudah dilakukan, semua tidak akan baik-baik saja.

Akhirnya aku sendiri harus mensyukuri bahwa keputusan mengundurkan diri adalah sebuah keputusan yang tepat. Walau sampai hari ini aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Sampai hari ini masih ada rasa takut, takut kalau akhirnya aku tidak mendapatkan pekerjaan yang baru. Takut kalau aku tidak punya uang lagi. Takut…..takut….takut, banyak ketakutan yang seringkali muncul dalam benakku.

Aku sering berfikir masih adakah harapan itu? Masih bisakah aku bekerja lagi? Masih adakah yang akan menerima aku untuk bekerja? Sering kali pertanyaan itu muncul hingga menimbulkan rasa frustasi dalam diriku.

Satu bulan pertama sudah berhasil dilalui. Aku bisa melaluinya karena ada banyak hal yang masih bisa aku kerjakan, salah satunya komitmenku untuk terlibat dalam satu kegiatan pelatihan. Aku sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam kegiatan tersebut setelah aku tidak lagi bergabung dengan organisasiku yang dulu. Namun mereka sebagai yang memiliki kegiatan tetap memintaku untuk tetap bergabung dalam kegiatan, tidak atas nama organisasi tetapi atas nama individu.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap terlibat dalam kegiatan tersebut. Kondisiku yang sudah tidak memiliki ikatan dengan siapapun justru mempermudah aku terlibat dalam kegiatan tersebut. Aku dapat fokus menyelesaikan materi-materi yang akan digunakan dalam pelatihan.

Dan ternyata hal tersebut juga sangat membantu aku untuk tidak gelisah atas kondisi yang ada.

Namun, setelah bulan pertama dilalui dan belum ada “lampu hijau” untuk pekerjaan selanjutnya, aku mulai resah, aku mulai bertanya-tanya apakah mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan lagi?

Sudah ada tiga lowongan pekerjaan yang coba aku apply. Namun sayangnya sampai hari ini, kabar baik itu belum datang juga.

Dua lowongan kerja yang aku apply sebenarnya ada di satu tempat. Satu lowongan untuk asisten administrasi dan satu lowongan untuk project officer. Lowongan untuk asisten administrasi aku coba memasukannya karena wilayah kerjanya ada di kampungku. Aku membayangkan bisa bekerja di kampung, berkumpul dengan keluarga dan tentu saja bisa sambil memulai untuk membuat usaha baru di kampung.

Tapi sayangnya sepertinya aku belum berjodoh. Dari informasi yang aku peroleh manajer programnya mengatakan sayang pengalamanku kalau aku hanya sebagai asisten administrasi, karena seharusnya dengan pengalaman yang ada aku bisa pegang untuk posisi setingkat manager.

Posisi yang kedua, sebagai project officer sepertinya aku juga belum berjodoh. Mungkin hal ini juga sama, untuk pengalaman-pengalaman yang sudah aku cantumkan di CV, tidak lagi cocok untuk mengisi posisi sebagai project officer. Harusnya memang dari awal aku melamarnya sebagai project manajer.

Sempat ada kabar baik, bahwa aku akan ditawarkan untuk memegang project yang hampir sama dengan apa yang sudah aku lakukan kurang lebih dua tahun terakhir ini. Aku sangat senang mendengar informasi tersebut. Hampir tiap hari aku berdoa semoga kabar baik itu segera datang. Dan hingga hari ini aku masih menunggunya.

Selama satu bulan setelah resign hubunganku dengan teman-teman dikantor juga makin menjauh. Di hari terakhir aku masuk kantor dan aku pamitan, memang banyak yang terkejut. Ada beberapa teman yang kirim pesan pribadi menyatakan keterkejutannya. Namun ternyata itu adalah pesan-pesan terakhir yang dikirimkan mereka, setelah itu tidak ada pesan yang masuk, bahkan untuk menanyakan kondisiku bagaimana?

Ada memang rekan kerjaku yang mengirimkan pesan. Ada beberapa pertanyaan yang terkait dengan hasil kerjaku selama ini. Sakit hatiku ternyata membuatku malas untuk menjawabnya. Bahkan ketika dia bertanya tentang keterlibatan dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang awalnya aku tidak bersedia melanjutkan karena akau sudah resign, aku malas untuk menjawabnya.

Hanya dua orang rekan kerjaku yang benar-benar peduli pada kondisiku saat ini. Walau tidak setiap hari tetapi mereka senantiasa menyakan bagaimana kondisiku, bagaimana kesehatanku, bagaimana keadaanku. Hal tersebut membuat aku senang. Aku merasa ada orang yang masih peduli.

Aku menganggap ini penting karena memang selama ini tidak ada orang yang peduli pada diriku. Apakah aku bekerja, apakah aku sehat, apakah aku sudah makan dan lain sebagainya. Tidak pernah ada orang yang bertanya soal hal tersebut. Mereka selalu berpikiran bahwa aku selalu baik-baik saja.

Dalam catatanku ada dua orang yang sama sekali tidak peduli dengan kondisiku. Saat aku terakhir masuk kantor mereka sedang berada diluar kota karena satu pekerjaan, yang aku sendiri tidak tahu. Karena setelah aku mengirimkan surat pengunduran diriku akses informasiku mulai dibatasi sehingga aku sendiri tidak mengetahui mereka kemana sedang kegiatan apa. Dan sampai hari ini, setelah satu bulan aku tidak lagi bekerja, mereka juga tidak bertanya bagaimana kondisiku?

Inikah persahabatan, inikah kekeluargaan yang selama ini kita degungkan di kantor? Hampir 17 tahun aku mengabdi, tetapi pengabdianku, pengorbananku tidak dihargai sama sekali. Tidak ada penghargaan untuk pengabdian yang cukup lama ini.

Aku menerima? Ya aku harus menerinya, aku harus iklas menerima semuanya. Toh selama ini aku sudah menerimanya dengan diam. Tuduhan-tuduhan, judgment dan lain sebagainya selama ini sudah terlalu sering diarahkan kepadaku…aku memberontak…seingatku aku tidak pernah membantahnya. Aku menerima semuanya, aku memilih untuk diam. Aku memilih……..

Kadang aku putus asa atas kondisi yang hari ini aku jalani. Kadang aku berfikir kenapa hidupku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Dari lahir hingga hari ini cobaan datang silih berganti. Kapan bahagia itu akan datang? Aku seringkali bertanya. Sampai kapan aku akan menghadapi hal ini?

Kata orang setelah ada kesedihan pasti aka nada kebahagian? Namun aku bertanya kapan hal itu datang?

Aku capaik? Iya aku capaik. Seringkali aku berfikir untuk mengakhiri semuanya. Aku ingin segera kembali kepangkuan Tuhan. Capaik menghapi hidup ini, capaik menghadapi semuanya sendirian.

Tapi terkadang aku juga juga berfikir mungkin ini memang takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan sehingga aku harus iklas menjalaninya. Dan aku harus yakin bahwa kebahagiaan akan segera datang.

 

Jakarta, 02 November 2026

Jumat, 31 Desember 2021

selamat Tahun Baru 2022

Selamat Tahun Baru 2022

Satu kata itu yang ingin aku coretkan pada tulisan pagi ini. Akhirnya tahun pun berganti, angka satu di ganti angka dua. 

Ada banyak kenangan yang tertinggal di tahun lalu, baik kenangan indah maupun kenangan buruk. 

Lembaran baru akan segera diisi, bagai kertas putih yang siap untuk dicorat coret. Ada banyak harapan dan ada banyak angan yang ingin dicapai tahun ini.

Semoga bisa menorehkan segala kenangan indah yang akan terjadi selama tahun ini. 

Senin, 31 Agustus 2020

Kesal

Lagi dan lagi....aku dibuatnya kesal. Ya siapa yang ngak kesal, udah beberapa hari ini dia diem aja. Boro-boro bisa bercanda tawa kayak hari-hari sebelumnya. Dia hanya bicara seperlunya aja. Kalau tidak aku ajak ngomong dia tidak mau ngomong.

Kesel....pastilah ya, tapi aku gak tau harus bagaimana mengekspresikan kekeselanku. Aku diam tentu aku tambah kesel, tapi aku bicara, takut nambah masalah lagi.

Malam ini kekesalanku memuncak. Sejak pagi dia diam, aku tidak hiraukan. Hingga menjelang magrib dia hanya diam saja, aku cuek. Selese sholat Magrib dia pamit keluar. Tumben...biasanya kemana-mana dia tidak mau bilang.

Biasanya habis Magrib memang kita keluar untuk cari makan. Tapi pamitnya dia memang sengaja untuk tidak mengajaku cari makan. Dia bilang mau ke ATM untuk bayar kuliah. Oke....aku tidak memaksa untuk ikut karena memang situasinya tidak memungkinkan. Dia masih diam, bisa jadi kalau aku memaksa ikut akan menambah kemarahannya. 

Aku sempat bertanya mau makan malam ngak? Sebenarnya itu trik aja biar aku bisa ikut. Tapi dia menjawab tidak. Ok tidak masalah, mungkin malam ini aku juga tidak akan makan malam.

Selese sholat Isya ada notifikasi whatsapp. Ternyata dia WA, tanya aku mau nitip makan ngak, karena dia sudah mau menuju ke rumah. Karena tidak mau merepotkan aku balas tidak.

Selang beberapa menit dia balas lagi untuk minta ijin pulang agak larut. Kalau aku ngantuk tidur aja, pintu tidak usah dikunci. Aku sempet balas dan bertanya apakah ada agenda? Dia tidak balas sama sekali. Bahkan tidak mau membacanya.

Ada banyak pertanyaan kemana dia pergi, agenda apa yang dilakukan dan lain sebagainya. Harusnya aku maklum karena dia memang tidak pernah mau mengatakannya. 

Akhirnya aku tahu. Ternyata agenda biasa yang akan sampai larut. Acaranya pun juga makan-makan. Pantas saja bilang tidak mau makan malam.

Ternyata benar, dia pulang hingga larut. Menjelang jam 12 baru sampai rumah. Aku bukakan pintu. Aku berharap dia berfikir aku menunggunya. Padahal sebelumnya aku udah tertidur. Aku terbangun karena dia belum pulang.

Lagi dan lagi, tidak ada obrolan apapun. Keluar dari kamar mandi dia langsung masuk kamar dan menguncinya. Tidak biasa memang, karena dia lebih sering tidur dengan pintu terbuka sebenarnya. Mungkin dia tidur hanya memakai celana dalam, karena celana pendeknya masih ada di kamar mandi. Mungkin dia juga sedang butuh pelampiasan untuk self service, sehingga pintu harus ditutup dan dikunci. Kembali ada banyak kecurigaan dan pertanyaan yang tidak mampu aku jawab.

Akupun melakukan hal yang sama, masuk kamar dan menguncinya. Untuk membangun kecurigaannya aku mencoba membuat aktifitas yang mengeluarkan suara. Tapi entah berhasil atau tidak aku tidak tahu. Sadiwaraku aku tutup dengan keluar kamar lagi dan langsung ke kamar mandi. Di kamar mandi aku bermain air untuk beberapa saat. Keluar dari kamar mandi aku sengaja seakan belari. Untuk mengeluarkan kesan aku buru-buru. Aku sempat masuk kamar, aku kunci. Tapi tak lama aku keluar lagi untuk minum dan mengeluarkan suara kelegaan.

Aku ingin dia tahu kalau aku tahu aktifitas yang sedang dia lakukan di kamar. Semoga...

Selasa, 30 Juni 2020

Pagi-Pagi Menghilang

Pagi ini, ketika bangun tidur aku lumayan kesel. Ya kesel karena teman serumahku pergi begitu saja dipagi buta tanpa ada info apapun.

Sebenarnya aku mendengar ketika dia bangun, kemudian pergi ke mushola untuk sholat subuh. Aku juga mendengar ketika dia pulang. Dan aku mendengar ketika dia mengeluarkan motor.

Tapi aku tidak berfikir dia akan pergi sepagi ini. Aku berfikir seperti biasa dia mengeluarkan motor kemudian tidur lagi. Ternyata aku salah, ketika aku bangun motornya sudah tidak ada.

Uniknya lagi, dan ini yang membuat aku curiga dia nyalain motornya setelah jauh dari rumah. Mungkin agar aku gak tahu kemana dia pergi. Mungkin memang dia ingin pergi diam-diam.

Tapi siapa yang gak curiga. Seorang laki-laki pergi pagi buta gini, apa coba yang akan dilakukan.

Kecurigaan-kecurigaan itu datang silih berganti, yang jujur saja membuat hatiku kesal sekali. Pengin marah, tapi tak tahu bagaimana harus melampiaskan kemarahan itu.

Sejak aku tinggal serumah dengan orang ini, aku memang sering merasa kesal, merasa pengin marah. Hal tersebut karena memang tingkah lakunya yang benar-benar diluar prediksiku.

Jumat, 26 Juni 2020

Kembali Menyapa

Hai….halo

Apa kabar??

Terkesan basa basi ya? Bisa jadi…

Tapi yang jelas sudah cukup lama sekali aku tidak meninggalkan coretan disini. Bahkan mungkin sudah sangat lama sekali.

Aku ngak tahu apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Tapi seperti biasa, keinginan untuk meninggalkan coretan itu ada, hanya saja aku malas untuk memulainya. 

Akhirnya memang tidak terasa sudah cukup lama, bahkan sangat lama sekali aku tidak meninggalkan coretan disini.

Sudah dianggap mati, bisa jadi. Karena blog ini sudah hampir 3 tahun tidak ada update. Aku sendiri kadang lupa kalau punya blog ini. Padahal alamat blog ini aku tulis dalam bio Twitter dan Instagram, dengan tujuan orang-orang yang akan mengenal aku lebih jauh bisa membuka coretan-coretan ini. Tapi apa mau dikata, meluangkan waktu sejenak untuk menulis pun ternyata ‘malas’.

Tidak menulis blog bukan berarti tidak melakukan publikasi. Selama ini publikasi pribadi yang aku lakukan lebih banyak melalui instagram. Sesekali menggunakan facebook dan sesekali juga menggunakan twitter. 

Pasti ada pertanyaan, lantas kenapa kembali lagi ke blog ini. 

Yup….beberapa hari yang lalu mencoba untuk membuka tulisan-tulisan yang pernah ditulis di blog ini. Mengenang setiap momen. Ternyata itu asyik juga. Dan teryata dengan tidak menulis di blog ini banyak sekali momen-momen dan kenangan yang terlewatkan tidak meninggalkan suatu goresan yang bisa di baca kembali. Bisa dikenang kembali apa yang aku rasakan pada hari itu.

Atas dasar itu semuanya, akhirnya tergerak untuk kembali menulis. Tergerak untuk instal kembali Blogspot yang sempat menghilang dari HP. 

Banyak hal yang ingin ditulis, banyak hal yang aku rasakan. Marah, senang, sedih, semua jadi satu. Ingin sebenarnya rasa-rasa itu bisa tertuang dalam blog ini sebagai strategi pelampisan. Itu sebenarnya harapannya kenapa kembali lagi kesini. 

Tapi tidak tahu, apakah itu bisa dilakukan atau tidak, tapi berharap ada tempat melampiaskan apa yang aku rasakan di dalam hati. Walau aku tahu mungkin tidak ada yang membaca tulisan ini, tapi paling tidak aku memiliki ruang.